Bantu Atasi Kasus Kekerasan pada Perempuan, Reny Hidzajie Harap Forum Puspa Daerah Segera Terbentuk
Selanjutnya forum ini menentukan lokus di Kawasan Pontianak Barat yakni di Kampung Yuka Kelurahan Sungai Beliung
Penulis: Nina Soraya | Editor: Nina Soraya
Bantu Atasi Kasus Kekerasan pada Perempuan, Reny Hidzajie Harap Forum Puspa Daerah Segera Terbentuk
PONTIANAK – Koordinator Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa), Reny Hidzajie, berharap kabupaten kota di Kalbar segera membentuk Forum Puspa di daerahnya. Forum Puspa memiliki peran penting dalam membantu mensosialisasikan program Three Ends.
Yaitu akhiri kekerasan terhadap Perempuan dan anak, akhiri perdagangan orang dan akhiri kesenjangan ekonomi Perempuan.
Baca: Forum Puspa Penting Bantu Tekan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak
Baca: Forum Puspa Penting Bantu Tekan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak
“Masyarakat itu kan berhak memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dalam perlindungan anak. Dan itu tercantum dalam UU Perlindungan Anak. Masyarakat di sini adalah perorangan, keluarga, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, dunia usaha, korporasi, ormas, organisasi sosial hingga media massa,” ungkap Reny saat menjadi pembicara di Forum Peningkatan Peran Serta Masyarakat Dalam Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan tema “Membangun Sinergi LembagaMasyarakat untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak”, di Hotel Kini Pontianak, Kamis (11/7/2019).
Berdasarkan Sistem Informasi OnlinePerlindungan Perempuan dan Anak KPPA disebutkan bahwa terdapat 7.370 kasus kekerasan yang terjadi. Dan dari angka tersebut 79 persen korban kekerasannya merupakan Perempuan. Sementara itu lebih dari separohnya yakni 58 persen korbannya usia anak-anak.
Dia menjelaskan Forum Puspa Kalbar dibentuk dengan 38 lembaga turut berpartisipasi. Selanjutnya forum ini menentukan lokus di Kawasan Pontianak Barat yakni di Kampung Yuka Kelurahan Sungai Beliung. Wilayahnya cukup padat yakni Sekitar 7.000 orang berkumpul dalam tiga RW.
Sehingga banyak permasalahan muncul di sana. Di antaranya Tidak mempunyai mata pencaharian tetap tercatat 17.066 jiwa (banyak pengangguran) sehingga beban ekonomi keluarga banyak ditanggung oleh perempuan dengan bekerja di sektor informal.
“Muncul kenakanalan anak-anak seperti ngelem, minuman keras dan perkelahian antar anak-anak. Bahkan dua tahunan belakangan ini ada warga yang menjadi korban KDRT,” ujarnya.
Jadi, Puspa Kalbar memilih lokus dan akan melakukan program yang dirancang bersama penggiat perlindungan anak dan perempuan Kalimantan Barat yang melakukan aksi bersama, dengan pendekatan Pengembangan Karakter Anak dan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan.
Perubahan itu, lanjutnya dimulai dari anak-anak, perempuan, keluarga dan masyarakat serta mendorong partisipasi pemerintah di tingkat kelurahan serta lembaga masyarakat.
Baca: Siapkan Lulusan Siap Kerja, Mercure dan Ibis Pontianak Bidik Pelajar SMK 5
Baca: Salurkan Listrik Lebih Baik, PLN Ganti Kabel di 604 Tower SUTT
Kegiatan yang dilaksanakan di antaranya Penyuluhan dan Sosialisasi UU Perkawinan, Pembentukan Forum Anak hingga pelatihan karakter untuk anak. Selain itu dilaksanakan pula pelatihan teknis pemberdayaan Perempuan seperti pelatihan pengolahan limbah rumah tangga, pelatihan tata rias wajah, dan pelatihan membuat kue jajanan pasar.
“Masalah Perempuan dan anak itu seperti fenomena gunung es. Masalah kompleks, tapi SDM, dana, daya jangkau hingga pemerintah masih sangat terbatas. Tapi sebenarnya ada SDM di masyarakat yang sangat banyak dan besar dan itu bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Jika masalah keterbatasan dana, lanjut Reny, semuanya memang mengeluhkan hal tersebut. Namun ia menyakini banyak solusi yang bisa diberikan. Di antaranya missal dengan memanfaatkan dana CSR perusahaan untuk membantu dalam pemberdayaan Perempuan dan perlindungan anak.
“Lalu sekarang ini kana da dana desa. Memang dana desa ini lebih banyak dipakai untuk infrastruktur. Namun jika infrastruktur sudah dibenahi, tidak ada salahnya dana desa juga diberdayakan untuk membantu dalam program ini,” sampainya. (nin)