Mutiara Ramadan
Prof Dr Komaruddin Hidayat: Beragama Secara Lapang
Dalam forum-forum diskusi kadang muncul pertanyaan, apakah orang yang beda agama............................
Perubahan perbandingan populasi ini jika tidak disertai pemerataan kesejahteraan ekonomi, pendidikan dan keamanan, potensial menimbulkan konflik etno-religion. Bertemunya sentimen etnis dan agama.
Keragaman
Kegelisahan ini sudah dan sedang berlangsung di berbagai belahan dunia. Jadi, ke depan tema keagamaan dan ketuhanan tidak akan pernah surut, bahkan terdapat tanda-tanda menguat.
Apakah institusi negara, intisusi sosial, dan institusi lain akan menjadi pandamping, pesaing agama ataukah musuh agama? Atau, bagaimana agama akan merumuskan peran dirinya dalam masyarakat dunia yang kian padat dan majemuk ini?
Apakah tokoh dan gerakan agama akan menjadi penggerak perubahan dan pembangun peradaban seperti abad-abad lalu? Jawaban yang muncul bisa bernuansa ideologis, teologis, utopis, dan saintifik.
Secara politis-sosiologis kita juga sering melihat fenomena pemaksaan ataupun bujukan kepada seseorang untuk memeluk suatu agama tertentu. Namun sesungguhnya, keberagamaan yang demikian itu bukanlah keberagamaan sejati.
Mengakui dan menghargai keragaman dan perbedaan agama sesungguhnya juga merupakan bagian dari doktrin Al-Quran, walaupun tidak berarti Al-Quran membenarkan semua agama. Namun yang pasti, baik menurut Al-Quran maupun berdasarkan kenyataan historis-sosiologis, proses sekularisasi, munculnya pluralisme agama dan keberagamaan merupakan bagian dari hukum sejarah (sunnatullah) ketika Al-Quran sendiri memberikan isyarat bahkan akomodasi bagi perkembangan tersebut.
Salah satu persoalan yang sering muncul di kalangan tokoh agama adalah mereka sering mengingkari kenyataan ini dan kemudian mendambakan terwujudnya agama tunggal di muka Bumi. Ini suatu kemustahilan dan bertentangan dengan cetak biru Tuhan. (*)