Mutiara Ramadan
Prof Dr Komaruddin Hidayat: Beragama Secara Lapang
Dalam forum-forum diskusi kadang muncul pertanyaan, apakah orang yang beda agama............................
Prof Dr Komaruddin Hidayat: Beragama Secara Lapang
PONTIANAK - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof Dr Komaruddin Hidayat mengatakan dalam mutiara ramadannya terkait perbedaan agama di masyarakat.
Dalam forum-forum diskusi kadang muncul pertanyaan, apakah orang yang beda agama, Tuhannya juga berbeda? Ataukah sama namun hanya satu jalan dan pintu menuju kepada-Nya?
Apakah orang yang beda agama bisa masuk surga? Tentu saja jawabannya beragam, dipengaruhi sikap pribadi dan buku yang dibaca serta guru agama yang diikutinya.
Jika sikap tidak rela melihat pemeluk agama hanya untuk diri dan komunitasnya, itu masih bisa diterima. Tetapi jika berkembang menjadi konstruksi ideologi dan gerakan yg mengambil sikap permusuhan terhadap umat lain, agama akan jadi sumber keresahan sosial.
Tuhan lalu diposisikan untuk dibela, kalau perlu dengan pertumpahan darah. Perbedaan agama serta merta menciptakan garis pemisah bagi umat yang berbeda keyakinan.
Muncul konstruksi teologis, di sana hanya ada satu pintu ke surga lalu diperebutkan secara berdesak-desakan, bahkan terjadi saling bunuh.
Baca: Jadwal Sudirman Cup 2019 Hari Ini Selasa (21/5): Malaysia Vs India Siaran Langsung Jam 11.00
Baca: Karyawan SBLI Biskuit Cap Macan Kembali Demo di DPRD Kota Pontianak
Baca: UBSI Pontianak Gelar Buka Puasa Bersama Anak Yatim
Bukankah ada doktrin membunuh orang kafir itu memperoleh pahala dari Tuhan?
Jika sikap ini yang berkembang membesar, pemeluk agama akan terus terlibat konflik, kebencian dan peperangan sepanjang sejarah. Lalu perangnya pun disebut perang suci (holy war).
Siapa yang membunuh lawannya pintu surga terbuka di depan matanya.
Penduduk bumi mesti bersiap untuk melihat dan terlibat perang antar umat beragama yang kian seru dan merata.
Mengapa? Karena populasi penganut agama semakin besar jumlahnya dan semakin tersebar ke berbagai penjuru dunia.
Masyarakat dunia pun semakin berdekatan jaraknya, namun pluralitas agama juga semakin kental dirasakan.
Betapa pesimisnya masa depan masyarakat dunia kalau perbedaan agama bukannya membuat kehidupan semakin nyaman dan peradaban semakin maju, tetapi eksistensi agama-agama malah menjadi sumber keresahan.
Perkembangan dan perubahan demografi pemeluk agama ini sangat dirasakan oleh negara-negara Barat, dan Eropa, di mana jumlah pemeluk Islam berkembang jauh lebih cepat dan pesat ketimbang umat Kristiani.
Baik para imigran maupun umat Islam yang terlahir dan tumbuh di sana pada umumnya anaknya banyak, sementara warga nonmuslim pertumbuhannya nol, atau bahkan minus. Mereka enggan punya anak.