Kuasa Hukum Pelaku Bersyukur Perkara Kasus Temui Titik Terang Pada Tahap Diversi

Kasus penganiayaan siswi SMP bernama Audrey yang dilakukan oleh sejumlah siswi SMA di kota Pontianak yang menghebohkan Indonesia

Kuasa Hukum Pelaku Bersyukur Perkara Kasus Temui Titik Terang Pada Tahap Diversi
KOLASE TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
BREAKING NEWS: 3 Pelaku Pengeroyokan Audrey Jalani 'Hukuman', Keluarga Korban Beri 3 Syarat! 

Kuasa Hukum Pelaku Bersyukur Perkara Kasus Temui Titik Terang Pada Tahap Diversi

PONTIANAK - Kasus penganiayaan siswi SMP bernama Audrey yang dilakukan oleh sejumlah siswi SMA di kota Pontianak yang menghebohkan Indonesia bahkan sampai mancanegara akhirnya menemui titik terang pada Diversi di tahap Pengadilan.

Diversi di tahap pengadilan ini sendiri dilaksanakan di pengadilan negeri Pontianak, Selasa (14/5/2019).

Penasehat hukum dari para pelaku yakni Deni Amirudin menyambut baik upaya adanya kesepakatan diversi dan perkara ini diputuskan di luar pengadilan.

"Kami menyambut baik sekali adanya kesepakatan diversi ini. Artinya tiga perkara ini tidak diputus di dalam pengadilan, di luar pengadilan, walupun ini diversi yang ketiga, Alhamdulillah berhasil, berkah Ramadhan, semuanya menjadi teduh sudah, dan kita sudah mencapai kesepakatan bersama. Walaupun memang tidak mengurangi rekomendasi Bapas. Hal itu tetap berjalan, tetap dijalankan,"katanya.

Baca: BABAK Baru Kasus Audrey, Ada Sanksi dan Tiga Poin yang Harus Segera Dilaksanakan Pihak Pelaku

Baca: Kasus Audrey Proses Damai, Kuasa Hukum Daniel Edward Tangkau Ungkap Hal Ini

Baca: BREAKING NEWS: 3 Pelaku Pengeroyokan Audrey Jalani Hukuman, Keluarga Korban Beri 3 Syarat!

Iapun mengatakan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan silaruhmi kepihak keluarga korban, sebelum tanggal 23 Mei 2019.

"Mungkin dalam waktu dekat ini secepatnya kita akan membangun silaturahim, misalkan buka puasa bersama, nanti anak-anak dan orangtuanya kita temukan. Nanti kita saling merangkul, secepatnya, kami sedang mengatur jadwal juga dalam waktu dekat ini kami akan lakukan itu. Paling tidak sebelum batas waktu sebelum tanggal 23 Mei penandatanganan berita acara diversi,"ujarnya.

Deni mengungkapkan bahwa kendati adanya kesepakatan penyelesaian pidana anak diluar proses pengadilan atau diversi sanksi sosial terhadap para pelaku tetap berjalan.

"Sanksi sosial tetap, tiga bulan berjalan tetap di jalani berupa kerja sosial di Bapas selama tiga bulan, mereka bukan berada di lapas menjalani hukuman kurungan ya, Mereka melayani masyarakat di sana. Jadi pulang sekolah mereka ke sana, selama paling 3 - 4 jam setelah itu mereka pulang ke rumah, selama tiga bulan Bapas boleh menambah apabila yang bersangkutan tidak mengindahkan, tapi ketika sudah cukup saya rasa tidak,"jelasnya.

Kemudian, ia menjelaskan bahwa dalam diversi ada masa percobaan, yang mana dalam masa percobaan ini.

"dalam masa diversi itukan ada masa percobaan, diversi ini tiga anak ini tidak boleh melakukan tindak pidana juga. Selama umur 18 tahun. Mungkin dalam proses pidana hukum masa percobaan tiga bulan, tapi ini panjang sekali selama usianya belum 18 tahun, Jadi ini nanti wanti-wanti buat orang tua, jaga anaknya,"katanya.

Iapun menegaskan bahwa Diversi merupakan sebuah penyelesaian sengketa pidana anak diluar persidangan dan tidak menggugurkan sanksi sosial.

"Kami apresiasi sekali dipimpin oleh wakil ketua pengadilan negeri Pontianak, dan berjalan dengan hikmat dan tidak butuh waktu lama,dan semua pihak sudah, mungkin suasana nya sudah teduh. Ini adalah perkembangan bidang hukum yang maju buat kita semua. Jadi masyarakat juga tahu apa itu diversi bahwa tindak pidana anak tidak sama pidana umum,"jelasnya

Penulis: Ferryanto
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved