Paskah Kristen Berbeda dengan Paskah Yahudi, Kisahnya Dimulai dari Sejarah Kelam Masa Lalu

Tak hanya itu, setiap anak yang lahir dari bangsa Ibrani pun harus ditenggelamkan di Sungai Nil.

Penulis: Marlen Sitinjak | Editor: Marlen Sitinjak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
Paskah Kristen Berbeda dengan Paskah Yahudi, Kisahnya Dimulai dari Sejarah Kelam Masa Lalu.. 

Di perjamuan itu, ada beberapa sajian yang menjadi simbol Paskah yang dihidangkan, misalnya roasted shank bone sebagai simbol pengorbanan Paskah, telur yang mewakili musim semi dan lingkaran kehidupan, sayuran pahit sebagai tanda getirnya perbudakan, haroset yang melambangkan mortir yang digunakan oleh orang-orang Yahudi di Mesir, serta karpa yang menggambarkan musim semi.

Tak hanya itu, dalam Seder, mereka juga menyertakan tiga potong matzah, sebuah kudapan mirip biskuit yang mewakili roti yang dibawa orang Israel saat meninggalkan Mesir, dan air garam sebagai simbol air mata para budak.

Tradisi Paskah Yahudi juga termuat dalam Alkitab, yakni di Keluaran 12 yang menyebutkan bahwa orang Yahudi harus merayakan pembebasan dengan memakan daging domba atau kambing jantan yang dipanggang, makan roti tidak beragi dan sayuran pahit.

Mereka pun diwajibkan makan roti tidak beragi selama tujuh hari lamanya. Selama perayaan itu, tidak boleh ada ragi di dalam rumah.

Penentuan hari Paskah juga tertuang dalam Alkitab (Keluaran 12:18), “Dalam bulan pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu pada waktu petang, kamu makanlah roti yang tidak beragi, sampai kepada hari yang kedua puluh satu bulan itu, pada waktu petang.” Dalam kalender Ibrani, bulan pertama adalah bulan Nissan, yang biasanya jatuh di sekitar Maret-April dalam kalender Gregorian.

Paskah Yahudi dan Kebangkitan Yesus Ada banyak perdebatan yang muncul ketika mengaitkan Paskah Yahudi dengan perayaan Paskah orang Kristen tentang kematian Yesus.

Rabbi Danya Ruttenberg pernah mengulasnya dalam sebuah artikel yang diterbitkan Washington Post.

Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang Perjamuan Terakhir (The Last Supper), sebuah kisah tentang perjamuan Yesus bersama dengan dua belas pengikutnya yang tertuang dalam lukisan karya Leonardo da Vinci.

Dalam Kitab Matius, Markus, dan Lukas, perjamuan yang dilakukan Yesus itu merupakan hari pertama perayaan Paskah. Namun Ruttenberg tak meyakini kisah tersebut.

Sebab, biasanya pada malam pertama Paskah orang hanya memakan korban Paskah, yakni seekor domba yang sudah disembelih di bait suci dan kemudian dipanggang lalu disajikan di rumah.

Sampai sekarang, kebenaran dari peristiwa itu memang masih diperdebatkan. Di Asia Kecil, orang-orang Kristen menganggap hari Penyaliban Yesus adalah hari yang sama ketika orang Yahudi merayakan Paskah, dan peristiwa kebangkitan terjadi dua hari setelahnya.

Namun dalam catatan Ensiklopedi Britannica, masyarakat Barat merayakan Kebangkitan Yesus pada hari Minggu pertama ketika Yesus bangkit dari kematian.

Pada tahun 325 diselenggarakan Konsili Nikea I, sebuah pertemuan dewan ekumenis pertama dari gereja yang dihimpunkan oleh Kaisar Romawi Konstantin I. Dalam pertemuan itu, para pemuka gereja membahas keseragaman tanggal Paskah.

Keputusannya: Paskah umat Kristen dirayakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama setelah ekuinoks musim semi (21 Maret), sehingga Paskah bisa jatuh pada hari Minggu antara 22 Maret hingga 25 April.

Karena penetapannya bergantung pada bulan purnama, maka Hari Paskah Kristen jatuh di tanggal yang berbeda setiap tahun, sedangkan Paskah Yahudi tetap dirayakan pada hari keempat belas bulan Nissan (kalender Ibrani) dan dirayakan selama delapan hari. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved