Bangunan Madrasah Tertua di Mempawah Terbakar

Material bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu membuat api begitu cepat meratakan tiga ruang kelas di sekolah

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Nina Soraya
TRIBUN PONTIANAK/ YA M Nurul Anshory
Kebakaran hebat melanda gedung Madrasah Ibtidaiyah Taufiqiyah di Mempawah, Jumat (19/4/2019). 

Bangunan Madrasah Tertua di Mempawah Terbakar 

MEMPAWAH - Warga RT 01 RW 09 Dusun Lima Desa Nusapati, Sungai Sahang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah panik melihat kobaran api yang tiba-tiba saja membesar.

Kobaran api ini berasal dari sebuah Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Taufiqiyah, Jumat (19/4/2019) sekira pukul 17.00 WIB.

Baca: 10 Polisi Meninggal saat Tugas Pemilu

Baca: RAMALAN ZODIAK Karier Sabtu 20 April, Aries Berhati-hatilah, Waktu Tepat Menyelesaikan Tugas Scorpio

Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Taufiqiyah berdiri sejak 1935 bahkan sebelum Indonesia merdeka. Bahkan ini merupakan Madrasah tertua di Kabupaten Mempawah yang masih aktif.

Ketua Yayasan Islamiyah Taufikiyah, Rahimi, mengatakan ada tiga ruang kelas yang disapu rata oleh si jago merah. Tak hanya itu satu lokal perpustakaan, dan sebuah rumah guru juga ikut terbakar.

"Total siswa di sini khusus setingkat SD saja ada135 orang dari 6 kelas yang ada, dan ruang kelas yang terbakar adalah kelas 2, 3 dan 4," paparnya.

Rahimi menduga kuat api berasal dari korsleting listrik, sebab saat peristiwa kebakaran itu tidak ada aktivitas pembelajaran di sekolah.

Rahimi menuturkan, warga yang pertama kali melihat kobaran api adalah Sueb (65) yang tinggal tak jauh dari sekolah, istrinya kemudian memberi tahu warga dengan memukul tiang listrik.

"Saat api tengah berkobar warga setempat panik, istri Sueb memberitahu warga dengan memukul tiang listrik dan langsung berupaya memadamkan api dengan ember. Tidak lama berselang ada tiga buah mesin robin milik dusun lima yang dibawa warga untuk membantu memadamkan api," tuturnya.

Sekitar setengah jam petugas kebakaran datang kata Rahimi, karena kita menelpon Koramil dan mereka yang meneruskan laporan ke pemadam.

"Jadi ketika pemadam kebakaran datang api masih berkobar, selama satu jam barulah api bisa dipadamkan," ujarnya.

Material bangunan yang sebagian besar terbuat dari kayu membuat api begitu cepat meratakan tiga ruang kelas di sekolah tersebut.

"Cuma dindingnya saja yang semen, lantainya papan, kerangka juga kayu, dek nya juga triplek makanya api cepat membesar," ujar Rahimi.

Baca: Kalbar 24 Jam - Layangan Renggut Korban Jiwa, Pontianak Bakal Bangun JPO, hingga Rekapitulasi Suara

Baca: Mau Malam Mingguan di Kota Pontianak, Ini 3 Lokasi yang Bisa Kalian Jadiin Referensi

Khusus lokal perpustakaan yang terbakar, Rahimi merasa sedih sebab ada ribuan buah buku didalam ruang perpustakaan yang terbakar, sehari-hari perpustakaan tersebut digunakan oleh para siswa untuk belajar dan membaca.

"Harapan saya kepada pemerintah setempat bisa membantu sebab kami swasta di sini, kalau ingin membangun ulang tentu memerlukan biaya yang besar dan waktu yang cukup lama," tuturnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved