Terpilih Jadi Delegasi Pertukaran Pemuda ke Taiwan, Alda Swarni Dewi: There's Not Impossible

Mahasiswa IKIP PGRI Pontianak terpilih menjadi delegasi pertukaran pemuda ke Taiwan.

Terpilih Jadi Delegasi Pertukaran Pemuda ke Taiwan, Alda Swarni Dewi: There's Not Impossible
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Alda Swarni Dewi mahasiswa IKIP PGRI Pontianak saat di Taiwan menjadi delegasi pertukaran budaya. 

Sedangkan kegiatan outdoor, ia diajak jalan-jalan ke tempat-tempat bersejarah dan ke tempat yang belum pernah dijumpai di Indonesia selama di Taiwan.

Hari pertama ia diajak untuk ke Carrefour (di Taiwan, Calefu) untuk membeli beberapa kebutuhan selama 10 hari.

Hari kedua ada campus tour, melihat betapa besar dan bagusnya kampus NUK, budaya sekolah dan perbedaan dalam mengajar, dan hari-hari lainnya.

“Kami pergi ke Kaohsiung Ciatou Sugar Refinery, Refuieng Night Market, I-Ride (Kaohsiung software technology park, Brogent technology 4D movie experience) di mana kita bisa melihat seluruh dunia dan merasakan secara langsung hanya dalam beberapa menit,” ujarnya kembali.

Selanjutnya ke Zuoying Lotus Pond, Dragon Tiger Tunnel, Tainan one day trip (kota tertua di Taiwan, di sini kami belajar ttg history dan budaya taiwan), Qijin Island, The pier -2 art center, Central Park, I-shou University, Fo Guang Shan Buddha Museum (Museum buddha terbesar di dunia), dan akhirnya farewell party dengan menampilkan beberapa persembahan kepada Vice President of NUK yaitu Prof. Sam. dengan menampilkan tarian melayu sebagai budaya dari Kalbar.

Ia juga mengatakan 10 hari di sana tidaklah cukup untuk mengerti dunia lebih dalam, namun 10 hari disana telah merubah dan membawanya ke masa depan dunia yg lebih bersinar setelah ia pulang ke Indonesia.

Dengan mempelajari budaya, ia bisa mengerti dan menerima sudut pandang orang lain dengn baik, dan dengan mempelajari sluruh kegiatan indoor.

“Kita bisa merasakan betapa berharga dan indahnya perbedaan, betapa bahagia dan damainya dunia saat kita mengenal dan peduli satu sama lain dan betapa pentingnya menolong mereka yang membutuhkan kita,” imbuhnya.

Sebagai seorang anak desa, ia tidak pernah berpikir ini akan terjadi di kehidupannya. Alda menyampaikan memang rentetan cita-cita yang mustahil bagi anak desa yang belum pernah melihat dunia luar dari atas awan.

Namun baginya there's not impossible, just challenging. Dan dalam tiga tahun terakhir, hingga detik ini, sebuah tulisan di atas buku kecil SMA yang berisi 20 goals yang akan diraih, kini sudah menjadi goresan lurus di atas tulisan-tulisan itu.

Halaman
123
Penulis: Anggita Putri
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved