BPOM 18 Fun Fest

Sidig Handanu: BBPOM Sangat Berkontribusi Terhadap PMI dan Dinas Kesehatan Kota Pontianak

Sidig mengatakan kontribusi BPOM khususnya BBPOM Kota Pontianak terhadap PMI kedepannya yaitu pada unit transfusi darah.

Sidig Handanu: BBPOM Sangat Berkontribusi Terhadap PMI dan Dinas Kesehatan Kota Pontianak
ISTIMEWA
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak dr. H. Sidig Handanu Widoyono, M.Kes 

Sidig Handanu: BBPOM Sangat Berkontribusi Terhadap PMI dan Dinas Kesehatan Kota Pontianak

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, sekaligus kepala UDD PMI Kota Pontianak Sidig Handanu Widoyono mengatakan BPOM sangat berkontribusi pada unit transfusi darah untuk pengawasan mutu produk darah.

Sidig mengatakan kontribusi BPOM khususnya BBPOM Kota Pontianak terhadap PMI kedepannya yaitu pada unit transfusi darah.

PMI harus menghasilkan produk darah yang berkualitas, dan itu tidak lepas dari badan POM, yaitu bagaimana cara pembuatan obat dengan benar.

Baca: Harga BBM Turun, Arif Joni: Jangan Pencitraan Saja

Baca: Mengapa Warna Mata Manusia Berbeda-beda? Ilmuwan Ungkap Dua Hal Ini Jadi Pemicunya

Baca: Siswi SMP Dijual Seharga Rp 1 Juta, Ini Kronologi TPPO di Sandai

Selain obat diketahui bahwa faktor makanan sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat pada saat ini, terutama pada aspek gizi. Kemudian dari aspek makanan yang berbahaya.

Jadi BPOM perannya yaitu diaspek pengawasan terkait obat dan makanan.

"Kita tahu bahwa banyak sekali makanan yang sangat berbahaya bagi kesehatan," ujar Sidig saat menghadiri perayaan HUT ke-18 BPOM di halaman PMI Kota Pontianak, Minggu (10/2/2019).

Tentunya kinerja BPOM bersama sektor terkait dan dinas kesehatan harus bersama melakukan pengawasan terhadap makanan yang mengandung zat berbahaya yang ada di toko maupun makanan yang dijual dipedagang kaki lima.

Kita tingkat terus kerjasama kita kepada pemerintah daerah dalam artian dinas kesehatan dan BPOM yaitu terkait dalam pengawasan.

Sidig mengatakan masih ditemukan makanan yang dijual tanpa izin edar, terutama makanan dari luar, dan makanan berbahaya bagi anak-anak.

Sidig menyampaikan bahwa makanan di Indonesia belum ada pembatasan, artinya makanan ini tidak boleh dimakan oleh kelompok umur balita.

Misalnya makanan jadi seperti snack. Sebenarnya dari aspek kesehatan sangat merugikan. Namun memang belum ada pembatasan.

"Kita berharap ada perlindungan kepada kelompok tertentu terutama pada balita, yang rawan terhadap makanan," ujarnya.

Kalau anak sudah terpapar dan dibiaskaan makan snack dengan berbagai rasa makanm akan mempengaruhi pola makan dan nafsu makan pada anak.

"Hal seperti ini yang harus kita sosialisaskan bersama untuk kedepannya," ujar Sidig.

Penulis: Anggita Putri
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved