TRIBUN WIKI

Sejarah Huruf Arab Melayu, Pintu Masuk Aksara Nusantara

Pada kisaran abad 16 dan 17 bahasa melayu sebagai lingua franca pada kehidupan sehari-hari di Nusantara.

Penulis: Hamdan Darsani | Editor: Marpina Sindika Wulandari
TRIBUNPONTIANAK/NASARUDDIN
Erwin Mahrus saat simulasi penulisan Arab Melayu bersama peserta Workshop di Canopy, Kamis (25/5). 

Sejarah Huruf Arab Melayu, Pintu Masuk Aksara Nusantara

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Mulai dikenalnya aksara dalam peradaban merupakan tanda peradaban telah masuk zaman sejarah dari sebelumnya prasejarah. 

Kendati demikian, bukan berarti zaman prasejarah bukan termasuk sejarah.

Namun para ahli membedakan segmen antara zaman sejarah (telah mengenal tulisan) dan prasejarah (sebelum mengenal tulisan) untuk memudahkan analis.

Baca: Jepang, Inggris, Belanda dan Jerman Pelajari Aksara Arab Melayu

Baca: Nilainya Lebih Rp 1 Triliun! Buku Sejarah Kota Pontianak Dalam Bahasa Arab Melayu Hilang

Di era digital saat ini, kalangan generasi muda sudah tak lagi mengenal dan paham tentang aksara arab melayu (Armel).

Padahal aksara Melayu merupakan pintu masuk keberaksaraan di Nusantara.

Pemerhati Aksara Arab Melayu, Erwin Mahrus, menjelaskan pada kisaran abad 16 dan 17 bahasa melayu sebagai lingua franca atau sebagai bahasa pengantar pada kehidupan sehari-hari di Nusantara.

Pada abad tersebut islam juga telah tersebar luas diwilayah Nusantara.

Pengaruh arab juga kentara pada saat itu sehingga berpengaruh terhadap keberaksaraan di Nusantara.

“Pada saat itu meskipun daerah mempunyai bahasa sendiri-sendiri, seperti Aceh, Sunda dan lain. Bahasa tulisan yang digunakan arab melayu atau aksara Jawi,” ujarnya

Waktu itu setiap aktivitas masyarakat misalnya saat berdagang ingin membuat kwitansi, surat menyurat, korespendensi dan lain sebagainya telah menggunakan aksara Arab Melayu.

Bahkan ada beberapa karya tulis sastra hindu budha ada yang menggunakan aksara arab melayu.

Bukti lain yang juga barangkali bisa dilihat ketika sultan Pontianak pada tahun 1811 mengirimkan surat kepada Gubernur Hindia Belanda yang dijabat oleh Thomas Stamford Raffles yang berwarganegara Inggris. Aksara didalam tulisan tersebut menggunakan aksara melayu.

Abad 19 hingga awal abad 20 aksara arab melayu masih superior dibandingkan dengan aksara-aksara lain.

Namun pertengahan abad ke 20 aksara melayu mulai ditinggalkan hingga menjelang kemerdekaan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved