Pengamat Sebut Meninggalnya Siswi Mempawah Dalam Jam Olahraga, Murni Kelalaian Gurunya

Begitu seorang guru menyusun perencanaan pembelajaran, sudah dihitung semuanya, praktek dimana, siapa yang mengawasi dan lainnya.

Penulis: Syahroni | Editor: Dhita Mutiasari
ISTIMEWA
Wakil Rektor Bagian Akademik Untan, Dr Aswandi 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat Pendidikan Untan, Dr Aswandi mengatakan dengan kejadian tewasnya 2 orang siswa MTSn di Mempawah sata jam pengambilan nilai renang dikatakannya sangat disesalkan.

Kita sangat sesalkan, peristiwa meninggalnya dua pelajar di Mempawah, apalagi peristiwa ini terjadi saat pengambilan nilai olahraga, oleh gurunya.

Baca: Dua Siswinya Tewas Tenggelam, Ini Penjelasan Kepala MTSN 2 Mempawah

Baca: Siswi Tewas Tenggelam di Bekas Galian, Rekan Korban Beberkan Kronologinya

Guru seharusnya setiap mengajar, wajib mempunyai perencanaan atau modul. Didalam modul atau Rencana Pokok Pembelajaran (RPP) jelas pedoman apa yang harus dilakukan, materinya seperti apa dan capaian yang akan dicapai seperti apa.

Begitu seorang guru menyusun perencanaan pembelajaran, sudah dihitung semuanya, praktek dimana, siapa yang mengawasi dan lainnya.

Ternyata gurunya tidak melakukan itu, jadi saya tegaskan gurunya sudah lalai dan terledor. Adanya silabus, kepala sekolah akan tahu apa yang dilakukan oleh guru tersebut.

Tidak boleh guru seperti itu, itulah guru kita ini, kurang profesional dalam merencanakan pembelajaran. Sudah terjadi baru pening kepala akibat dampaknya.

Jadi menurut saya peristiwa ini adalah kesalahan gurunya. Kesalahan ini seharusnya tak boleh terjadi dan itu menyakitkan sekali. Nyawa orang sampai hilang saat mengajar, memang tuhan yang menentukan ajal, tapi penyebabnya dari manusia itu sendiri.

Saya menyesalkan kejadian ini, itu murni kelalaian guru. Ini menjadi peringatan bagi semua guru, karena tidak jarang guru melakukan hal serupa tapi tidak berenang.

Banyak guru, maaf nih, anak didiknya disuruh lari dijalan raya, tapi gurunya entah kemana. Nah inikan contohnya sangat banyak kita temukan, gurunya menyuruh murid lari dijalan raya dan kalau disenggol motor atau mobil siapa tanggungjawab.

Kasus semacam ini bisa saja, fenomena gunung es. Artinya banyak, dengan berbagai modus, contohnya lari tadi ditepi jalan raya dan bermain tempat yang tidak aman.

Guru harus belajar dari peristiwa ini, kita harapkan ini cukup yang terakhir. Kalau belajar memang tak perlu sejauh izin pada orangtua, tapi kalau memang diperlukan untuk izin pada orangtua harus izin.

Apabila tempatnya memang jauh harus izin pada orangtua, dulu waktu saya guru SD selalu izin apabila membawa murid pergi jauh. Orangtua tentu ada yang mengizinkan dan tidak, karena yang tau kondisi mereka secara utuh adalah orangtuanya.

Mohon maaf, guru kita ini perlu juga diberikan pemahaman tentang mengawasi anak didiknya, jangan juga guru ini terlalu disanjung. Masih banyak sisi lemah guru kita, karena memang manusia juga, bisa saja khilaf dan lalai.

Pelajaran penting peristiwa ini, tapi apakaj kita harus belajar setelah ada korban nyawa. Coba bayangkan kalau itu terjadi sama anak kita sendiri. Jangankan meninggal, kalai saya sendiri, cucu jatoh saja, saya tidak terima kalau kelalaian.

Guru itukan harus melindungi anak dan di Amerika guru macam itu pasti sudah masuk penjara. Guru tidak boleh sembarangan membawa muridnya, saya juga khawatir apalagi anak sekarang ini main hp, dibawa pakai motor dan sambil main hp, coba kalau disenggol motor dan mobil.

Saran saya kalau tidak bisa mengamankan anak, biarlah dilingkungan sekolah saja, tidak perlu berenang kesana sini.

Dikolam renangpun, belum tentu aman. Coba saja, kalau anak tidak bisa berenang bisa meninggal juga.

Jadi guru itu kurang perhatian pada muridnya. Guru itu mesti diberikan peringatan, semua guru harus memiliki kepedulian tehadap anak didiknya. Guru harus meningkatkan professionalismenya, diantara professionalisme itu adalah menjaga muridnya.

Jangan sampai guru duduk diruang guru, murid berkeliaran mainnya. Ini terjadi disekolah-sekolah yang ada. Guru harus mengawasi muridnya, setelah pulang kerumah barulah orangtuanya.

Saat ini guru kemana, tapi murid kemana, anak berkelahi disekolah. Namanya anak-anak inikan bisa saja kelahi bawa kayu dan memukul temannya baru gurunya kalut.

Inilah kita, selalu bertindak reaktif setelah ada kejadian, tapi tidak bertindak sebelum itu terjadi. Pemerintah daerah dan kementerian agama setempat dan daerah lainnya harus melakukan pembinaan terhadap guru.

Para pengawas sudah ada, ini tantangan berat untuk guru, di perkembangan informasi dan teknologi. Kalau guru tidak mempunyai peningkatan dalam mengawasi murid maka bobroklah kita kedepannya.

Guru harus lebih aktif dan meningkatkan profesional. Tapi guru yang aktif tidak bolehlah digaji hanya Rp200-500 ribu perbulan.
Bagaimana mau aktif dan profesional kalau guru digaji seperti itu, dia saja kekurangan gizi. Jadi permasalahan ini komplek dan harus kita lihat secara runut.

Terpenting ini harus jadi pelajaran kita semua, ini harus jadi peristiwa terakhir.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved