Warga Mengeluh Terkait Penutupan Simpang Empat Lampu Merah Polda

"Tidak masalah kalau macet seperti dulu, daripada memutar jauh bensin banyak habis, sekarang bensin sudah mahal," ujarnya.

Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ Ya' M Nurul Anshory
Penutupan simpang empat lampu merah Polda, Selasa (27/11/2018) sekitar pukul 13.04 WIB 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ya' M Nurul Anshory

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Penutupan simpang empat lampu merah Polda mendapat respon beragam dari masyarakat sekitar.

Dijumpai Tribun, Selasa (27/11/2018) salah satu pengguna jalan yang kerap melintas, merasa keberatan terkait penutupan jalur tersebut.

Baca: Terkait Penutupan Simpang Polda, Kompol Salbiah: Tunggu Petunjuk dari Kapolda Kalbar

Baca: Semifinal Liga 2, Ini Rekam Pertandingan 4 Tim Jelang Laga Penentuan Tiket Liga 1

"Saya tidak suka, masa simpang empat itu ditutup, dimana-mana simpang empat itu tidak ada yang ditutup," ujar Evy (40).

Ditanya Tribun mengenai perbandingan antara sebelum jalur tersebut ditutup, ia menjawab "Saya lebih milih jalur itu dibuka lagi, selama ditutup ini saya capek memutar jauh," ucapnya.

"Tidak masalah kalau macet seperti dulu, daripada memutar jauh bensin banyak habis, sekarang bensin sudah mahal," ujarnya.

Pengguna jalan yang lain, Asih (23) mengatakan "Sebenarnya tidak efektif ditutup permanen seperti itu, lebih efektif itu kalau dibuka tutup," ucapnya.

Asih menyarankan sistem buka tutup harus disesuaikan dengan jam sibuk, seperti jam berangkat sekolah, jam pulang kerja dan sebagainya.

"Kalau bukan jam sibuk, orang tidak terlalu ramai, saya kira tidak perlu di tutup," pungkasnya.

Mahasiswi yang setiap hari melewati jalur tersebut, Rima (22) mengatakan " Saya tidak setuju, soalnya rumah saya jauh, mau ke kampus jadi lebih jauh lagi," ucapnya.

Masyarakat lebih memilih macet daripada harus memutar jauh, ketika melewati simpang empat lampu merah tersebut.

Ketua RT 06 Jl Parit Haji Mukhsin, Abd Rasyid mengatakan sebelumnya sudah ada kesepakatan antara masyarakat sekitar dengan Polresta.

"Kita sepakat kalau disitu diberlakukan sistem buka tutup jalur, namun setelah kesepakatan itu dibuat penerapannya hanya sebentar saja," ucapnya.

Rasyid mengatakan, masing-masing pihak antara Polresta dan masyarakat punya alasan tersendiri mengenai sistem buka tutup jalur tersebut.

"Memang masyarakat sini ingin kalau simpang itu dibuka kembali, kalau mau di buka tutup harus konsisten waktunya kapan," tegasnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved