Banyak Nilai Kehidupan Yang Terkandung Dalam Saprahan

festival saprahan tingkat pelajar khususnya SMP-SMA di Kota Pontianak sebagai upaya pelestarian budaya.

Banyak Nilai Kehidupan Yang Terkandung Dalam Saprahan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/SYAHRONI
Sejarawan Kalbar, Syafarudin Usman. 

Disampaikan juga bukan berarti makan berseprah itu dominan milik masyarakat melayu, tetapi merupakan kebudayaan dari rumpun melayu yang sudah mengglobal.

"Kalau bisa tradisi seperti ini juga dijadikan sebagai satu tradisi kuliner yang masuk dilingkungan hotel berbintang, kemudian di rumah-rumah makan, ke resto-resto yang ada di Kota Pontianak," ucapnya.

Pentingnya budaya ini di lestarikan karena setiap budaya memiliki nilai-nilai kehidupan seperti bersaprah ini menggambarkan satu nilai kemajemukan yang dikemas dari aneka jenis masakan.

"Ada yang manis, asam, sampai ke yang sifatnya gurih. Semua itu mengandung makna filosofis bahwa masyarakat kita yan komunal ini berawal dari keberagaman," jelasnya Syafarudin Usman.

Spesifiknya makanan berseprah itu dari dulu sampai sekarang ini tetap sama dan hanya itu saja. Diungkapkannya kalau tidak ada perubahan.

Misalnya semur, opor, sambal segala macam. Hal itu menggambarkan kemajemukan yang ada. Opor melambangkan lemak manis, artinya jerih payah dalam hidup.

Kemudian air serbat, nah ini tradisi minum air serbat ini selain higienis juga memiliki kualitas vitamin non kolesterol. Dari segi manfaat, segi higienis, segi kesehatannya, menu saprahan ini sudah setara dengan menu sehat secara umum.

"Maknanya bagi melayu terkait air serbat atau disebut minuman penutup, kalau sudah keluar air serbat berarti selesailah rangkaian acara," sebutnya.

Baca: Festival Saprahan Tingkat SMP dan SMA di Pontianak

Ia sedikit menceritakan kalau bersaprah ini sudah ada sejak jaman kerajaan terdahulu, dimana tradisi ini untuk memuliakan tamu sehingga diajak berseprah duduk dibawah.

Bahkan artinya mengundang tamu siapapun tidak memandang kelas, tidak memandang derajat, jadi sama duduk dibawah.

Itu cara makannya pun sama, dalam arti kata menikmati hidangan itu tanpa membeda-bedakan apakah dia orang kerajaan atau bukan orang kerajaan semuanya itu menggambarkan toleransi dalam keberagaman.

Penulis: Syahroni
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved