Ustadz Abdul Somad Lihat Foto Sultan Hamid II Perancang Garuda Pancasila! Sisiran Rambutnya. . .

Sultan Hamid II, yang merupakan putra sulung Sultan Sri Lanka keenam, adalah perancang lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila.

Ustadz Abdul Somad Lihat Foto Sultan Hamid II Perancang Garuda Pancasila! Sisiran Rambutnya. . .
Screenshot Instagram@ustadzabdulsomad
Ustadz Abdul Somad dan foto Sultan Abdul Hamid II 

TRIBUNPONTIANAK.co.id/Marlen Sitinjak

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Dai kondang, Ustaz Abdul Somad (UAS) baru saja mengakhiri dakwahnya di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya (KKR), Kalimantan Barat (Kalbar).

Kedatangan UAS ke Kalimantan Barat untuk menghadiri sekaligus memberi tausyiah di malam puncak Haul Akbar Pendiri Kota Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman ke-217 tahun, di Istana Kadriah Kesultanan Pontianak, Senin (10/9/2018) malam.

Ustaz Abdul Somad mengawali perjalanan dakwahnya di Kota Pontianak dan Kubu Raya dengan menyampaikan tausyiah pada Kuliah Subuh Akbar, di Ponpes Darunna'im Pontianak, Senin (10/9/2018).

Baca: Kemana Arah Politik Ustadz Abdul Somad??? Inilah Jawaban Terkini Sang Ustadz

Baca: Cak Nun Tak Mau Dibandingkan dengan Ustadz Abdul Somad, Begini Alasannya

Di tengah ribuan umat, Kuliah Subuh Akbar tersebut dihadiri, Wakil Gubernur Kalbar yang baru dilantik H Ria Norsan, Kapolda Kalbar Irjen Pol Didi Haryono, Walikota Pontianak terpilih Edi Rusdi Kamtono, dan sejumlah tokoh Agama di Pontianak maupun luar Kota Pontianak.

Pagi menjelang siang, Senin (10/9/2018), UAS bersama ribuan umat Ziarah Agung di Makam Pendiri Kota Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie Bin Habib Husein Alkadrie.

Ustaz Abdul Somad didampingi Sultan Syarif Machmud Melvin Alkadrie memasuki ruangan makam pendiri Kota Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman untuk melakukan pembacaan surah yasin, di Pemakaman Kesultanan Pontianak Batulayang.

Senin (10/9/2018) petang, Ustaz Abdul Somad mengisi Tabligh Akbar di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Habib Sholeh bin Alwi Al-Hadad Pontianak.

Tabligh Akbar juga dihadiri ribuan umat dari berbagai penjuru Kota Pontianak dan Kubu Raya.

Dari rangkaian dakwah tersebut, Ustaz Abdul Somad begitu terkesan dan terharu saat melihat foto Sultan Hamid II yang dipajang di Istana Kadriah Kesultanan Pontianak.

Sang Ustaz pun memanfaatkan momentum itu untuk memberi pesan yang sangat berharga bagi bangsa. 

Pesan dalam bentuk video tersebut baru ia posting di akun Instagram @ustadzabdulsomad, Rabu (13/9/2018) jelang magrib.

Berikut isi pesan sang Ustaz: 

"Menunjukkan bahwa dalam satu hembusan nafas “Allahu Akbar” adalah kecintaan kepada NKRI.
Cinta kepada Ahlul Bait.
Pakaiannya tentara. Sisiran rambutnya, Masya Allah.
Dalam dirinya mengalir darah Nabi Muhammad SAW.
Dalam ucapannya “Allahu Akbar”
Dalam gambarnya adalah bintang.
Maka, hanya orang jahil, bodoh saja yang mempertentangkan antara Islam dengan NKRI.
Cinta Islam, cinta Allahu Akbar.
Cinta kebhinekaan.
Cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia."

Bersama postingan video tersebut, Ustaz Abdul Somad juga menyertakan pesan;

"Al-Habib Hamid Al-Qadri (Sultan Abdul Hamid II), perancang lambang Garuda Pancasila. Dalam dirinya mengalir darah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam." tulis UAS.

 

Baca: Postingan Ustadz Abdul Somad Bersama Wanita Non Muslim Ini Jadi Perbincangan

Baca: Posting Rangkaian Kegiatannya di Pontianak, Ustadz Abdul Somad Banjir Ucapan Terima Kasih

Ustaz Somad mengatakan Sultan Hamid II atau Syarif Abdul Hamid Alkadrie telah memberikan kontribusi luar biasa bagi Indonesia.

Sultan Hamid II, yang merupakan putra sulung Sultan Sri Lanka keenam, adalah perancang lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila.

Dalam dakwahnya ke Kalbar, Ustaz Abdul Somad mengajak warga Pontianak, Kalimantan Barat untuk mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ustaz Somad juga mengajak anak muda untuk bertindak positif.

Dia mengingatkan bahwa nafsu harus ditentang dengan aktivitas yang baik.

"Anak muda harus sibuk dengan kegiatan positif," katanya.

Di sisi lain, UAS mengingatkan pentingnya memiliki kekuatan, kaya, agama, dan mengingat kematian.

Ia menegaskan orang harus mencari Sultan Pontianak yang namanya masih diingat oleh masyarakat.

"Kami memperingati peringatan kematiannya karena dia orang baik, dia telah melakukan perbuatan baik terhadap agama dan bangsanya," kata Ustaz Abdul Somad saat Haul Akbar Pendiri Kota Pontianak.

Lebih Dekat Dengan Sultan Hamid II

Dikutip dari Wikipedia, Sultan Hamid II, lahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak ke-6, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Juli 1913 – meninggal di Jakarta, 30 Maret 1978 pada umur 64 tahun)

Sultan Hamid II adalah Perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila.

Dalam tubuhnya mengalir darah Arab-Indonesia.

Ia beristrikan seorang perempuan Belanda kelahiran Surabaya, yang memberikannya dua anak yang sekarang tinggal di Negeri Belanda.

Kehidupan Awal

Syarif Hamid al-Qadri, lahir pada tanggal 12 Juli 1913 di Pontianak dari pasangan Syarif Muhammad al-Qadri dan Syecha Jamilah Syarwani.

Ia merupakan anak sulung keenam mereka.

Sampai usia 12 tahun, Hamid dibesarkan oleh ibu angkat asal Skotlandia Salome Catherine Fox dan rekan ekspatriatnya asal Inggris Edith Maud Curteis.

Salome Fox adalah adik dari kepala sebuah firma perdagangan Inggris yang berbasis di Singapura.

Di bawah asuhan mereka, Hamid menjadi fasih berbahasa Inggris. Pada tahun 1933, Salome Fox meninggal namun Hamid masih tetap berhubungan dengan rekannya Curteis.

Syarif Abdul Hamid menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. 

HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMAdi Breda, Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

Selulusnya ia pada tahun 1937, ia dilatik sebagai perwira KNIL dengan pangkat Letnan Dua.

Dalam karir militernya, ia pernah bertugas di Malang, Bandung, Balikpapan, dan beberapa tempat lain di Pulau Jawa.

Masa Pendudukan Jepang

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel.

Pangkat itu bisa dikatakan sebagai pangkat tertinggi yang saat itu diberikan kepada putera Indonesia.

Ketika ayahnya mangkat akibat agresiJepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II.

Jelas pengangkatannya ini adalah kemauan sebagian besar rakyat Kalbar yang tak ingin adanya kekosongan jabatan dalam pemerintahan kesultanan.

Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil daerah istimewa Kalimantan Barat dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.

Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratuKerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. (*)

Penulis: Marlen Sitinjak
Editor: Marlen Sitinjak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved