Kenaikan Harga Daging Ayam Picu Inflasi di Bulan Mei

Kenaikan harga daging ayam ras terutama disebabkan oleh tren peningkatan harga bibit ayam (Day Old Chick-DOC)

Penulis: Nina Soraya | Editor: Nina Soraya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/TITO RAMADHANI
Penjual daging ayam potong menggelar dagangannya di Pasar Flamboyan, Pontianak, Kamis (23/7/2015)/ 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Nina Soraya

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Prijono, menjelaskan inflasi Kalbar pada Mei 2018 akan mengalami kenaikan terutama karena kenaikan harga beberapa komoditas bahan pangan.

Inflasi IHK Provinsi Kalimantan Barat pada Mei 2018 tercatat sebesar 0,34 persen (month to month/mtm) atau 3,34 persen (year on year/yoy).

Baca: Sinar Mas Optimistis RI Hasilkan Produksi Kelapa Sawit Berkelanjutan

Secara bulanan, inflasi IHK Provinsi Kalimantan Barat sebesar 0,34% (mtm) lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi IHK nasional yang tercatat sebesar 0,21% (mtm).

Sementara itu, secara tahunan, inflasi IHK Provinsi Kalimantan Barat sebesar 3,34% (yoy) juga lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi IHK nasional yang tercatat sebesar 3,23% (yoy).

Data Inflasi
Data Inflasi

Kenaikan harga komoditas bahan pangan terutama disumbang oleh daging ayam ras, ikan kembung/gembung, ikan tongkol/ambu-ambu, dan telur ayam ras.

Baca: Suasana Penumpang dengan Petugas Maskapai Ricuh, Setelah Terlantar Berjam-jam Tanpa Ada Kepastian

"Kenaikan harga daging ayam ras terutama disebabkan oleh tren peningkatan harga bibit ayam (Day Old Chick-DOC) yang diiringi dengan meningkatnya permintaan selama bulan Ramadan," ungkapnya.

Sementaraitu,kenaikan harga ikan kembung/gembung dan tongkol/ambu-ambu disebabkan oleh berkurangnya pasokan akibat faktor cuaca.

"Kenaikan harga telur ayam ras disebabkan oleh meningkatnya permintaan sehubungan dengan tradisi masyarakat membuat kue jelang Hari Raya Idul Fitri," jelas Prijono.

Baca: PLN Bantu 100 Anak Yatim dan Dhuafa di Sambas

Selain kenaikan harga bahan pangan, kelompok komoditas yang menyebabkan inflasi adalah kelompok inti (core), terutamakomoditas tukang bukan mandor.

Hal ini ditengarai karena pengaruh penyesuaian Upah minimum Provinsi (UMP) Kalimantan Barat dan meningkatnya proses renovasi rumah yang dilakukan masyarakat jelang Hari Raya Idul Fitri.

Kedepan, tekanan harga diperkirakan meningkat namun dalam tingkat yang terkendali. Terdapat beberapa risiko inflasi yang perlu dicermati.

(a) Peningkatan harga minyak dunia 

(b) Penyesuaian batas bawah tiket angkutan udara

(c) Kebakaranlahan, bencana asap, dan anomali cuaca yang dapat mengganggu distribusi bahan pangan

(d) Stabilitas politik dan keamanan jelang Pilkada serentak 2018.

"Dalam rangka pengendalian inflasi, Tim PengendalianInflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Barat akan terus memperkuat koordinasi kebijakan," tambahnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved