Sinar Mas Optimistis RI Hasilkan Produksi Kelapa Sawit Berkelanjutan

Isu yang beredar lebih kepada persaingan dagang tidak sehat antara produsen minyak nabati lain di eropa

Sinar Mas Optimistis RI Hasilkan Produksi Kelapa Sawit Berkelanjutan
TRIBUN/FILE
Masyarakat antusias mengikuti bazar pasar murah yang digelar oleh Sinar Mas di Pontianak, Rabu (6/6/2018). 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Nina Soraya

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Chief Executive Officer (CEO) Perkebunan Sinarmas Kalimantan Barat, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum 2 GAPKI Pusat, Susanto menegaskan bahwa pihaknya yakin Indonesia bisa menghasilkan produksi Kelapa Sawit berkelanjutan seperti yang diinginkan oleh para konsumen.

Hal ini diungkapkannya kepada wartawan media massa baik cetak maupun elektronik Kalbar saat mengelar buka puasa bersama di Hotel Mercure, Pontianak, Rabu (6/6/2018).

Menanggapi isu miring terhadap keberadaan kelapa sawit Indonesia oleh beberapa Non Government Organization (NGO) dan tudingan negara Uni Eropa, Susanto mengatakan bahwa hal itu tidak semuanya benar.

Baca: Sinar Mas Bersama Polda Kalbar Gelar Bazar Pasar Murah

Isu yang beredar, lanjutnya, lebih kepada persaingan dagang tidak sehat antara produsen minyak nabati lain di eropa yang pangsa pasarnya telah tergerus oleh minyak kelapa sawit atau CPO yang produktifitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan hasil produksi perkebunan lainnya di eropa seperti rapeseed, bunga matahari, soya oil dan lainnya.

"Pihak NGO menuduh sawit Indonesia sebagai penyebab rusaknya hutan; Sawit penyebab desforestasi kemudian sawit tidak mensejahterakan masyarakat, penyebab perubahan iklim, banyak perusahaan sawit yang pengemplang pajak, perampas tanah rakyat, tanaman monokultur, pelanggar hak asasi manusia, penyebab kekeringan dan masih banyak lagi tuduhan lain yang diarahkan ke sawit. Namun tuduhan itu janganlah ditelan mentah-mentah karena fakta di lapangan jauh berbeda," kata Susanto di Pontianak, Rabu (6/6/2018).

Menurutnya fakta di lapangan yang bisa diverifikasi dan dilihat oleh para pihak bahwa kebun kepala sawit memberikan sumbangsi yang begitu besar ke negara Indonesia. Saat ini sawit di Indonesia 43% merupakan kebun rakyat, 6% milik Negara dan 51% swasta artinya tidak semua perkebunan sawit dikuasai oleh pengusaha.

Baca: Kelompok Tani Sinar Mas Kembangkan Tanaman Moringa

Tak hanya itu sawit juga merupakan salah satu produk eksport penghasil devisa terbesar negara Indonesia, lebih dari 20 miliar dolar AS per tahun dan salah satu penyerap tenaga kerja terbesar. 

"Secara langsung penyerapan tenaga kerja di perkebunan sawit ini lebih dari 4,5 juta orang. Dan secara tidak langsung mampu menghidupi sebanyak kurang lebih 20 juta orang. Serta fakta lain yaitu sawit mampu menyebabkan pertumbuhkan wilayah. Dari dulu-dulunya wilayah yang tidak ada apa-apanya, kini bisa berkembang bahkan sudah ada yang menjadi kabupaten," paparnya.

Dirinya juga tidak memungkiri bahwa masih ada masalah di perkebunan sawit, masih ada yang membakar saat membuka lahan, penebangan hutan, pembebasan lahan yang tidak mengikuti SOP dan masih ada perusahan sawit yang tidak menjalankan peraturan ketenagakerjaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca: PLN Bantu 100 Anak Yatim dan Dhuafa di Sambas

Halaman
12
Penulis: Nina Soraya
Editor: Nina Soraya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved