Penemuan Mayat

Usai Bunuh Istri, Pria Ini Pilih Gantung Diri! Tetangga Ungkap Sosok Mereka Sebenarnya

Tetangga korban, Heri mengaku tidak menyangka pasangan suami istri tersebut akan meninggal tragis begitu.

Penulis: Subandi | Editor: Rizky Zulham
GRAFIS/TRIBUN PONTIANAK
Tenggelamkan Istri 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Lilis (47) ditemukan tewas mengapung di Sungai Pawan Desa Sukabangun Dalam Kecamatan Delta Pawan, Rabu (23/5) pukul 09.00 WIB.

Kondisi tangan dan kakinya diikat tali dan diberi atau digantungkan batu pada tubuhnya.

Selang beberapa jam kemudian ditemukan lagi suaminya, Ayong (50) meninggal tergantung dalam rumahnya.

Tetangga korban, Heri mengaku tidak menyangka pasangan suami istri tersebut akan meninggal tragis begitu.

“Saya tidak menyangka karena hari-hari kalau saya lihat laki bini (almarhum Ayong dan Lilis-red) bagus,” kata warga RT 16 Desa Sukabangun Dalam yang rumahnya tepat di samping kiri rumah korban dan hanya terpisah oleh lahan kosong.

Baca: Mayat Wanita Yang Mengapung di Sungai dan Pria Gantung Diri di Ketapang Ternyata Suami Istri

Ia menceritakan pada hari kejadian paginya warga dihebohkan penemuan mayat perempuan yang belum diketahui identitasnya.

Meski ia sempat melihat sebenar kemudian langsung pergi kerja dirinya tak menyangka jika mayat itu Lilis.

Namun saat sore ia pulang kerja ternyata di tempatnya kembali dihebohkan penemuan mayat Ayong yang tergantung.

“Jadi saya tidak menyangka ternyata yang meninggal mereka. Masalah laki bini itu tak pernah kedengaran,” ungkapnya.

Baca: Heboh, Mayat Wanita Terapung di Sungai! Kepala Dibungkus Kain

“Istilahnya kalau mereka kelahi itu tidak kedengaran sama sekali. Tidak seperti, mohon maaf saja, warga lain di tempat kita ini kalau kelahi laki bini habis kedengaran ributnya. Tapi kalau mereka ini tak kedengaran, mungkin dipendamnya,” lanjutnya.

Menurutnya, pasutri ini juga sering berbagi ke tetangga sekitar.

“Kesan saya orangnya baik. Apalagi suaminya kalau menjelang Lebaran begini sering kasi kita air minuman kaleng atau botol,” katanya.

“Tiap tetangganya setahu saya termasuk saya masing-masing dikasinya dua dus minuman air kaleng atau botol tiap lebaran itu. Kadang juga kita juga dikasinya gula 2 kilo gram,” lanjutnya.

Menurutnya korban memberikan air kaleng menjelang Lebaran itu secara langsung kepada para tetangganya.

Kemudian jika ada undangan dari para tetangga maka korban pasti akan menghadirinya meski pun sudah sangat terlambat.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved