Breaking News:

Editorial

Nyanyian Novanto Sengat Elite PDIP

keterangan Setnov yang hanya menyebut nama baru belum bisa menjadikannya sebagai justice collaborator.

Penulis: Rizki Kurnia | Editor: Rizki Kurnia
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ YOUTUBE
Terdakwa kasus korupsi e-KTP, Setya Novanto, menyatakan bahwa dua politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yakni Puan Maharani dan Pramono Anung, juga kecipratan fee proyek e-KTP. Masing-masing dari keduanya menerima 500 ribu dolar AS. 

Mereka masing-masing menerima AS$500 ribu, kecuali Ganjar yang jatahnya menurut Novanto telah dipangkas lebih dulu oleh Chairuman.

Namun Setnov menyatakan tak tahu menahu peran Pramono dan Puan dalam proyek e-KTP.

Ia mengaku bukan dirinya yang memberikan uang itu, tetapi diberikan oleh Made Oka Masagung yang dalam persidangan disebut sebagai pengelola uang Novanto.

Oka menyampaikan hal itu saat mereka bertemu bersama dengan Irvanto, keponakan Novanto sekitar akhir 2012 lalu.

Memang tidak semua kesaksian di pengadilan menyatakan kebenaran kendati pengucapnya berada di bawah sumpah. Apalagi bila tudingan didasarkan pada ucapan orang lain kepada dirinya.

Meski demikian, kesaksian di pengadilan juga tak bisa diabaikan sebagai petunjuk penyidikan walaupun yang dituding membantah.

Disebut-sebutnya sejumlah nama politisi PDIP yakni Puan Maharani, Pramono Anung membuat PDIP "gerah".

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto membantah jika dua elit politiknya menerima aliran uang e-KTP.

Menurut Hasto, posisi politik PDI Perjuangan (PDIP) selama 10 tahun pemerintahan SBY saat itu berada di luar pemerintahan.

Baca: DPRD Sambas Janji Berikan Perlindungan Kepada Korban Persekusi

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved