Eksekusi Mati Bandar Narkoba

Ong Bok Seong adalah terpidana mati kasus narkotika asal Malaysia yang mengontrol peredaran narkoba dari dalam Lapas Kelas II Pontianak.

Eksekusi Mati Bandar Narkoba
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Ong Bok Seong, terpidana mati asal Malaysia yang mengontrol peredaran narkoba dari dalam Lapas Klas II A Pontianak, diangkat menuju bus usai ekspose dua kasus pemberantasan narkoba di Mapolda Kalimantan Barat, Rabu (14/3/2018) pukul 13.30 WIB. Polda Kalbar menggagalkan peredaran lima kilogram sabu, sedangkan BNN bersama Bea Cukai menggagalkan peredaran dua kilogram sabu dan 30ribu pil ekstasi yang menewaskan satu warga negara Malaysia. TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kasus penyalahgunaan narkotika di negeri ini sepertinya tidak pernah sepi. Ibarat pepatah; mati satu tumbuh seribu.

Hampir tiap hari para bandar dan kurir yang berhasil ditangkap, etapi selalu muncul pelaku-pelaku lainnya. Karena ditengarai kejahatan model seperti ini tidak berdiri sendiri.

Selain jaringan (kartel-kartel) di luar sana sebagai pemasok, tentunya peran kaki tangan mereka yang ada di negeri ini. 

Baca: Polres Sekadau Kembali Tangkap Pelaku Dugaan Tindak Narkoba

Para gembong narkoba yang berada di penjara masih bisa mengendalikan peredaran bubuk setan tersebut.

Bahkan terpidana mati kasus narkoba yang belum dieksekusi mati masih leluasa mengatur penyelundupan barang haram tersebut.

Baca: Warga Malaysia Ditembak Mati Kasus Narkoba, Ini Tanggapan Pengamat Hukum

Terbukti dari tertangkapnya dua warga binaan Lapas Kelas II Pontianak, Darmawansyah dan Ong Bok Seong yang hendak menyelundupkan 5 Kg sabu-sabu, seperti diberitakan Tribun kemarin (15/3/2018).

Ong Bok Seong adalah terpidana mati kasus narkotika asal Malaysia yang mengontrol peredaran narkoba dari dalam Lapas Kelas II Pontianak.

Terungkapnya kasus ini bermula dari razia kendaraan di Jalan Lintas Malindo, Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau Senin (12/3/2018).

Baca: Kapolda Kalbar: Peredaran Narkoba Jaringan Internasional Metode Pengkhianatan Terhadap Negara

Anggota Polda Kalbar menemukan 5 kantong sabu di belakang kursi sopir dum truck. Dari hasil penelusuran diketahui barang itu pesanan Darmawangsyah, dan Ong Bok Seong sebagai penyandang dananya.

Penggagalan upaya penyelundupan Narkoba dari Malaysia juga dilakukan jajaran BNN Kalbar dan Bea dan Cukai sehari setelah kesuksesan jajaran Polda Kalbar.

Petugas menangkap pengemudi Toyota Calya KB 1437 SN bernama Edy Aris alias Haris yang membawa sabu-sabu 2 Kg dan 30.000 butir ekstasi saat melaju di Jalan Trans Kalimantan.

Edy mengaku barang tersebut pesanan Ng Eng Aun alias Piter, warga Malaysia yang menginap di sebuah hotel di Pontianak.

Petugas langsung menangkap Piter, namun saay diajak menangkap tersangka lain, ia berusaha kabur dan melawan, sehingga terpaksa didor petugas. Naas dalam perjalanan menuju rumah sakit, Piter tewas.

Kita mengapresiasi keberhasilan Polda Kalbar dan BNN tersebut. Karena, dari tangkapan kali ini saja setidaknya dapat menghindarkan ribuan masyarakat Indonesia dari penggunaan Narkotika.

Berdarkan survei, seperti diungkap Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono saat ekspose dua kasus pemberantasan narkoba di Mapolda Kalbar, Rabu (14/3), satu gram sabu bisa dikonsumsi 10 orang. Artinya, dari pengungkapan kasus ini ada 50 ribu calon pengguna sabu yang adiktif.

Tak heran jika Komjen Budi Waseso (Buwas) saat masih mengepalai BNN begitu geram lantaran para gembong narkoba yang telah divonis mati masih bisa mengendalikan bubuk haram tersebut.

Ini tentunya menjadi pertanyaa buat Jaksa Agung yang berwenang mengeksekusi mati, belum juga melaksanakan perintah pengadilan.

Kita tentu masih ingat pada 2016, 10 gembong narkoba tiba-tiba disuruh balik badan dari tiang eksekusi mati.

Hingga tahun 2017, tak satu pun gembong narkoba yang menghadapi regu tembak. Fakta yang makin bikin geram, Toge, datu gembong narkoba yang mengantongi dua vonis mati dan putusan 12 tahun penjara, hingga kini masih tidur nyenyak di selnya di Lapas Tanjung Gusta Medan dan masih bisa memasok barang-barang haram dari luar ke Indonesia.

Alih-alih mengurangi atau memberangus habis peredaran, aparat kejaksaan sebagai eksekutor tak juga mengeksekusi para gembong. Jaksa Agung M Prasetyo selalu berkelit ditanya soal eksekusi mati para gembong narkoba.

Kita tentu bertanya-tanya mengapa jaksa agung tak bernafsu menyerahkan para gembong narkoba ke depan regu tembak.

Seharusnya, dia melihat fakta riil yang terjadi di negeri ini. Kalau memang jaksa agung terganjal oleh hak asasi manusia (HAM), tentunya harus berpikir bagaimana nasib generasi muda negeri ini terus dicekoki oleh para gembong narkoba yang masih dibiarkan mengatur dan memasok narkoba dari luar sana.

Dan, berton-ton serbuk setan terus membanjiri negeri ini. Sampai kapan? (*)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved