Pilkada Kalbar
Kampanye Dialogis Smart Campaign, Indikasi Masyarakat Memilih Pemimpin
Pengamat Politik Untan Erdi Abidin mengungkapkan sebenarnya pemilihan gubernur pasti di dalamnya terdapat nilai kompetisi
Penulis: Chris Hamonangan Pery Pardede | Editor: Madrosid
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat Politik Untan Erdi Abidin mengungkapkan sebenarnya harus menyambut baik, bahwa dalam pemilihan gubernur pasti di dalamnya terdapat nilai kompetisi.
Sebuah kompetisi adil dan jujur jika ia setara, maka untuk menjadi setara KPU harus mengeluarkan semacam aturan yang setiap calon harus mengikuti aturan-aturan itu.
Kesetaraan, keseimbangan itu yang kita wujudkan oleh KPU dengan cara seluruh paslon dan tim mengikuti aturan itu.
Ini adalah pesta rakyat yang sedemikian rupa memberikan kesempatan pada rakyat untuk berfikir melahirkan pilihan yang hebat.
Baca: Momen Pilkada, Pabali Musa Nilai Pentingan Semangat Pengendalian Diri
"Saya dalam konteks ini ingin menyarankan beberapa hal, yang pertama harus menghilangkan isu SARA, kedua harus menenpatkan pemilihan ini betul-betul dengan partisipasi yang tinggi, masyarakat tidak perlu dimobilisasi dan sebagainya, ketiga kita menginkan agar pemilihan tidak didasarkan kepentingan sesaat yang riskan menemukan pemimpin yang berkualitas," ujarnya.
Cara-cara kampanye dialogis sebenarnya kampanye ala Smart Campaign, dalam literator eropa barat dikenal sebagai smart campaign artinya bagaimana partai, timses mendekatkan konstituen kepada pemimpin.
Indikasinya yang kita peroleh pemimpin bisa dikenal oleh rakyat, dan disisi lain pemimpin mengenal rakyat jika saling mengenal maka kebutuhan urgen dari masyarakat bisa disusunnya dalam bentuk alat untuk masyarakat memilih.
Kemudian Indonesia kita melihat partisipasi politik memang agak rendah tanpa ada mobilisasi sehingga membutuhkan mobilisasi yang tinggi khususnya di daerah kabupaten kota.
Dalam konteks kampanye dialogis saya melihatnya membagi dua, masyarakat pemilih di Kota menurut orang yang juga saya setuju adalah pemilih yang cerdas karena jangkauan media massa dan medsos sangat tinggi, sehingga konstituen punya kesempatan yang banyak menentukan pilihannya.
Baca: Ketua MABT: Dengan Seni Dapat Merekatkan Bangsa
Tapi, mereka adalah pemilih yang sudah fix dalam artian pemilih kota lebih cenderung sudah ada pilihan dan untuk mempengaruhinya sangat sulit kecuali ada aktivitas yang luar biasa.
Sementara pemilih di kabupaten saya mengusulkan dua macam.
Yang pertama kontestan lebih mengenal atau lebih dekat dengan informan leader. Sehingga kata- kata ajakan, seruan dan sebagainya dari tokoh masyarakat dan agama efektif dalam meraih suara.
Oleh karena perlu dinetralisir, tokoh agama dan masyarakat silahkan bekerja menurut keyakinan, namun kades dan aparat desa harus netral.
Untuk mencapainya, timses harus memastikan sistem pemantaun yang dilakukan Bawaslu benar-benar efektif.
Bawaslu juga harus sering turun kebawah mengcover, tidak hanya menunggu laporan dari masyarakat dan jika menemukan tanda pelanggaran ditindak lanjuti agar benar-benar kompetitif untuk menemukan pemimpin yang berintegritas berdasarkan program kepentingan membangun Kalbar terwujud.
Dan kita tidak menginginkan hasil Pilgub menyisakan kerusakan-kerusakan sehingga menjadikan pembangunan bersifat akumulatif supaya masyarakat dan pelayanan publik semakin baik serta investasi menjadi primadona bagi investor.