Gerhana Matahari Total

Tatung Singkawang: Tidak Ada Ritual Khusus Sambut Gerhana

Sesepuh yang menjadi seorang tatung sejak umur 18 tahun ini menuturkan tidak ada ritual khusus dalam menyambut datangnya gerhana matahari.

Penulis: Novi Saputra | Editor: Mirna Tribun
SHUTTERSTOCK
Gerhana Matahari. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - A Kong atau biasa disapa Pak Kong (76) menuturkan tidak ada yang istimewa dari sebuah kejadian alam berupa gerhana matahari.

Sesepuh yang menjadi seorang tatung sejak umur 18 tahun ini menuturkan tidak ada ritual khusus dalam menyambut datangnya gerhana matahari.

Terkecuali di masa silam, kata dia mitos-mitos banyak dipercayai masyarakat, kalau kini zaman sudah terlalu maju seiring dengan ditinggalkannya mitos-mitos tersebut.

"Dulu ada yang mengatakan mataharinya dimakan anjing, jadi ramai-ramai mukul bebunyian, kalau sekarang bulan saja yang lama tidak ketemu matahari ," kata Pak Kong terkekeh, Rabu (9/3/2016) saat dijumpai di kelentengnya di Jl Abadi, Kelurahan Pasiran Singkawang.

Pria yang pernah menjadi icon produk kamera Canon G2 kala menjadi tatung dengan tusukan terbanyak hingga 108 tusukan ini masih ingat betul dimasa silam, pernah terjadi miss komunikasi akibat gerhana.

Kata dia didaerah Pajintan warga banyak memukul bebunyian karena sedang terjadi gerhana, akibatnya warga pendatang yang sedang bekerja membangun proyek pemerintah lari terbirit-birit, mengira terjadi perang.

" Itu sudah lama sekali, kalau sekarang tidak lagi seperti itulah, tahun ini Indonesia hebat karena bisa lihat gerhana negara lain tidak ," katanya.

Jangankan memukul bebunyian ataupun mitos lain seperti tidak boleh berada diluar rumah saat gerhana, kata Pak Kong orang-orang sekarang justru menjadikan gerhana sebagai tontonan. " Cuma sayang Singkawang hari ini mendung ," pungkasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved