Gerhana Matahari Total

Gunakan Mata Batin, Aad Lukis Gerhana Matahari

Dimana bahan utamanya adalah campuran antara tinta printing standar, dengan cat minyak khusus yang memang biasa digunakan untuk lukisan.

Penulis: Ishak | Editor: Mirna Tribun
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISHAK
Lukisan karya Aad menjadi persembahan cinderamata, diberikan GM Aston Pontianak kepada Kepala BPAA-LAPAN Pontianak, di sela-sela acara pengamatan gerhana, Rabu (09/03/2016) pagi. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ada pemandangan berbeda di antara kerumunan warga, yang hendak menyaksikan fenomena gerhana matahari 2016, di pusat pengamatan gerhana, halaman Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (BPAA-LAPAN) Pontianak, Rabu (9/3/2016) pagi.

Sesosok pria berkaos kerah putih, lengkap dengan topi, duduk di tepian parit-parit kecil, halaman BPAA -LAPAN Pontianak. Di sisinya, canvas, media melukis berukuran sedang terpasang rapi, lengkap dengan beberapa kaleng cat, serta kuas lukis.

Dia adalah Yanuwar Ahadin (43), atau yang biasa disapa Aad ini merupakan satu dari seniman lukis Pontianak.

Dirinya mengakui sengaja memilih pusat pengamatan BPAA-LAPAN Pontianak berharap mendapatkan nuansa lebih dalam dari pengamatan gerhana.

Pria yang hasil karyanya rata-rata terpajang rapi di art gallery hotel Aston Pontianak ini menjelaskan lukisannya tentang gerhana kali ini akan menggunakan Mix Media (Media Campuran), dimana bahan utamanya adalah campuran antara tinta printing standar, dengan cat minyak khusus yang memang biasa digunakan untuk lukisan.

Dalam bayangan Aad, lukisannya akan menghasilkan gambar bergradasi hitam merah, kuning orange. "Patokannya di titik hitam, kemudian biasnya kuning ke merah-merahan sebelah kiri," jelasnya.

Dari segi filosofis, ia mengatakan  dalam kehidupan manusia, titik hitam adalah faktor dominan dalam hidup manusia, namun sehitam apapun hidup seseorang, sisi putih tetap ada.

"Titik hitam itu penjabarannya, si pembaca bisa bebas menafsirkannya, putih juga tetap ada," ujarnya.

Pada momen melukis gerhana ini, Aad memutuskan tidak menggunakan kacamata khusus gerhana untuk melihat objek yang akan digambarnya, tapi dikatakannya, dia akan melukis menggunakan mata batinnya.

Nantinya, mata akan ditutup kain tebal beraksen gelap pekat, kemudian dia akan melukis dalam kondisi mata tertutup itu. "Jadi dak liat mataharinnya mas," pungkas Aad.

Mengenai waktu memulai, momen puncak dipilihnya sebagai waktu start melukis. "Pas momen tiga menitnya (momen) puncaknya, krn langka, untuk kepuasan pribadi," timpalnya.

Momen gerhana matahari kali ini, juga menjadi momen baginya mengenang romansa masa lalu. Ia mengisahkan, saat usianya masih sembilan tahun, untuk pertama kakinya ia menyaksikan gerhana matahari.

"Waktu itu sekitar 1983 kalau tidak salah, pernah liat juga, ini ke dua kalinya saya menyaksikan gerhana matahari dalam hidup saya, tidak tau apakah bisa lihat momen gerhana yang ke tiganya nanti," pungkasnya.

Ia lantas menyampaikan harapannya, pada masa depan, seni lukis diimpikannya semakin tumbuh pesat. "Seni lukis di Pontianak, (semoga) tidak semu semata, tidak seperti tahun-tahun seperti dulu, yang otodidak semacam saya ini biar bisa inovasi sendiri," ujarnya menutup perbincangan.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved