Kapal Keruk Pertama Buatan Indonesia, Begini Cara Kerjanya

Dibangun mengikuti aturan terbaru klasifikasi Bureau Veritas (BV), baik dari konstruksi, mesin, listrik, dan semua peralatan kapal besi ini

Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Arief
ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang
Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya (kanan) bersama Presiden Direktur PT Steadfest Marine, Eddy Kurniawan Logam (KEdua kanan), melakukan peninjauan usai acara serah terima kapal keruk MV Barito Equator senilai 16,7 juta Euro, di Batu Layang, Pontianak, Sabtu (11/4/2015). PT Steadfast Marine, perusahaan galangan kapal nasional yang berbasis di Pontianak tersebut, melakukan serah terima kapal keruk MV Barito Equator atau Trailing Suction Hopper Dredger TSHD-2500 berkapasitas 2.800 ton kepada perusahaan kapal asal Belanda, Damen Shipyard. 

Padmo menambahkan selain menggunakan materi berkualitas, fungsi pekerja professional yang turut andil dalam pembuatan kapal juga patut diacungi jempol. Mereka sangat berpengalaman dan telah teruji.

Luar biasanya lagi, mayoritas pekerja adalah warga lokal Indonesia. Termasuk beberapa warga sekitaran wilayah Kota Pontianak. "Kalau pekerja lokal sekitar 80 orang, terlibat dalam pembuatan kapal ini. 20 Warga Negara Belanda adalah tenaga ahli yang bertugas memberikan supervisi," ujarnya.

Mengenai pendidikan pekerja, Padmo mengatakan bahwa mereka ada yang berasal dari sekitaran Pontianak dan dari luar daerah. Baik dari SMK, STM, maupun universitas. Mayoritas, pekerja adalah warga Pontianak yang telah bekerja di industri galangan kapal di Batam, Kepulauan Riau.

"Ada juga tamatan satu di antara universitas di Indonesia, yakni Manager Engineering. Ia gambar design kapal, dan diakui oleh American Bureau of Shipping (ABS) dan Bureau Veritas (BV) Inggris," tuturnya.

Lanjutnya, pemasangan dan setting dilakukan tenaga kerja lokal. Tujuannya adalah untuk menyerap ilmu dari para tenaga asing ahli pembuat kapal. Di mana dalam pembuatan kapalnya menggunakan teknologi tinggi.

Ini juga dalam rangka alih teknologi kepada tenaga ahli lokal, lewat interaksi yang dibangun. "Tugas warga Belanda sebagai supervisi, apakah sudah benar pemasangannya. Atau sudah dikencangin baut-bautnya. Apa benar sudah lurus. Kita dapat ilmu pengetahuan dari Belanda yakni haluan kapal dibuat tidak melengkung, tapi lurus seperti kapak atau dikenal dengan Ulstein X-Bow," papar Padmo.

Ia menambahkan saat ini, para pekerja sudah memperdalam teknologi tentang hybrid yakni kapal tidak bergerak sepenuhnya dengan tenaga diesel melainkan juga beterai, bisa di-charge dengan sinar matahari, dengan tenaga alternatif solar system.

Ia mengatakan setiap rangkaian proses pembuatan kapal telah dilakukan dengan baik, dilakukan dengan teliti mulai dari awal hingga akhir. "Semuanya perlu SDM-SDM khusus. Pekerja telah melakukan design, mouldloft, sand blasting, primer coating, keel laying fitting, marking, cutting, forming, sub assembly/assembly, erection, outfitting terdiri dari electrical & piping instalation, painting, las dan tanki untuk tes kebocoran, launching, dan bahkan sea trial atau uji coba sudah dilakukan pada 8 April lalu," paparnya.

Padmo berharap selain kapal, perusahaan juga membangun manusia berkarakter dan berkomitmen terhadap daerah. Untuk membangun daerah, menjadikan kalbar terlihat dari luar seperti industri perkapalan professional. "Karena semua punya bagian masing-masing jadi lebih bermanfaat. Semoga Kalbar ke depan dikenal sebagai pusat industri perkapalan," pungkasnya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved