Kapal Keruk Pertama Buatan Indonesia, Begini Cara Kerjanya

Dibangun mengikuti aturan terbaru klasifikasi Bureau Veritas (BV), baik dari konstruksi, mesin, listrik, dan semua peralatan kapal besi ini

Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Arief
ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang
Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya (kanan) bersama Presiden Direktur PT Steadfest Marine, Eddy Kurniawan Logam (KEdua kanan), melakukan peninjauan usai acara serah terima kapal keruk MV Barito Equator senilai 16,7 juta Euro, di Batu Layang, Pontianak, Sabtu (11/4/2015). PT Steadfast Marine, perusahaan galangan kapal nasional yang berbasis di Pontianak tersebut, melakukan serah terima kapal keruk MV Barito Equator atau Trailing Suction Hopper Dredger TSHD-2500 berkapasitas 2.800 ton kepada perusahaan kapal asal Belanda, Damen Shipyard. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kapal Keruk MV Barito Equator Damen TSHD 2500 resmi dilaunching PT Steadfast Marine di Kawasan Berikat PT Steadfast Marine, Jl Khatulistiwa, Pontianak, Sabtu (11/4/2015). Seperti apa proses pengerjaan kapal senilai Rp 300 miliar tersebut?

Seperti diketahui, MV Barito Equator Damen TSHD 2500, resmi di-launching PT Steadfast Marine, Sabtu (11/4) lalu. Tribun kemudian menyambangi PT Steadfast Marine, Senin (13/4/2015) sore.

Kedatangan Tribun disambut hangat dan senyum sumringah Manajer Operasional PT Steadfast Marine, Padmo. Ia pun menuturkan proses produksi kapal yang baru saja di-launcing dengan bersemangat.

"Kapal ini dibuat sebagai model baru. Dibangun mengikuti aturan terbaru klasifikasi Bureau Veritas (BV), baik dari konstruksi, mesin, listrik, dan semua peralatan kapal besi ini," kata Padmo.

Ia menjelaskan, kapal dirancang untuk melayani daerah dan beroperasi di sepanjang Sungai Kapuas, Sungai Barito, dan sejumlah sungai lainnya di Tanah Air. Kapal khusus untuk mengeruk lumpur di sungai-sungai dangkal, yang menyebabkan kapal bermuatan berat sulit masuk pelabuhan.

"Kapal ini untuk mengeruk dasar sungai, TSHD 2500 bisa melakukan pengeboran untuk menghancurkan sedimen. Kemudian sedimen dalam bentuk lumpur dihisap dan ditampung ke dalam hopper-nya," ujarnya.

Hopper adalah tempat penampungan sedimen berbentuk tabung. Setelah hopper penuh kapal akan berhenti melakukan pengisapan. Kapal ini akan berlayar ke titik-titik yang telah ditentukan Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), mengenai area pembuangan sedimen.

"Dibuang di titik yang telah ditentukan. Setelah dibuang kapal bekerja kembali. Buangnya juga tidak memakai pompa, tetapi di lambung kapal, ada pintu pembuangan. Dibuka terus lumpur tersebut jatuh," paparnya.

Padmo menjelaskan kapal dengan dominasi warna orange dengan sedikit garis hitam ini memiliki panjang 80.30 meter, lebar 16.20 meter, dan tinggi 5.60 meter. Dengan bobot gross tonnage 2.800 ton. Kapal ini dapat melaju dengan kecepatan 10.6 knot dan bertenaga 1491 Bkw.

Kapal dilengkapi 7 mesin bermerk Catterpillar. Baik mesin utama maupun cadangan, dipasang dengan dua mesin utama, dua sistem kemudi control penutup mekanik, dengan koneksi stroke kopling flens dan sistem mengeruk.

"Mesin diesel dengan jenis mesin turbocharged aftercooler, mesin diesel 4 tak. Pompa air jet didorong oleh mesin diesel non reversibel. Pada electrical system-nya, daya listrik utama dihasilkan generator diesel, darurat diesel generator dengan shore connection," kata Padmo.

Ia menuturkan kapasitas penumpang adalah 12 personel, dengan kapasitas penampungan tanki lumpur 2.500 matric ton. Tanki bahan bakar minyak 250 meter kubik, tangki air tawar 35 meter kubik, tanki limbah 10 meter kubik, tanki minyak pelumas 2 meter kubik, tanki minyak kotor, serta tanki air lambung kapal.

Untuk jangkar dan tambat kapal dilengkapi dengan dua unit, yakni jangkar mesin kerek dengan dua sumbat roller rantai dan satu rol penggulung sebesar 5 ton. "Sistem navigasi standar yang dipasang pada papan dengan radar, GPS, radio mf / hf, Radio VHF 3, 2 Inmarsat C, penerima NAVTEX, 2 cerdas, GSM, GMDSS, AIS, kompas magnetik dan kompas giro, autopilot, echo sounder, log kecepatan, barometer, termometer, hygrometer, dan anemometer," imbuhnya.

Untuk aspek keamanan, kapal juga sudah dalam kategori memadai dari peralatan yang dimiliki. Padmo menegaskan dalam pembuatannya, PT Steadfast Marine bekerja sama dengan pihak Damen Shipyards Area Asia Pasifik.

Damen menunjuk PT Steadfast Marine sebagai pembuat. Di mana 80 persen material dan peralatan dikirim Damen dari Belanda. Impor karena peralatan seperti radar dan alat navigasi buatan Indonesia belum ada. "THSD didesign Belanda, Damen memberikan spesifikasi khusus sesuai request kliennya. Setelah kapal ini jadi akan dibeli Damen dan dianggap sebagai hasil karya mereka," ungkapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved