Menelusuri Jejak Aset PT BIG
Areal Pabrik seperti Kota Mati
Sebagian beraspal, sebagian masih rusak. Bahkan, ada ruas jalan yang kerusakannya cukup parah.
Penulis: Subandi | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Lima tahun masuk daftar pencarian orang (DPO), Bos PT Benua Indah Grup (BIG), Budiono Tan, ditangkap Polda Kalbar di Jakarta Barat, Sabtu (10/1). Tribun mencoba menelusuri aset-aset perusahaan milik Budiono yang tersebar di Ketapang dan Pontianak.
Lokasi perkebunan kelapa sawit PT BIG ada di Kecamatan Sungai Melayu Rayak. Jaraknya sekitar 70 kilometer dari pusat Kota Ketapang. Untuk menuju Sungai Melayu Rayak, kondisi jalan poros tidak rata kualitasnya.
Sebagian beraspal, sebagian masih rusak. Bahkan, ada ruas jalan yang kerusakannya cukup parah. Beberapa warga memanfaatkan kondisi jalan yang rusak parah itu dengan membuat miting sekdar untuk memperoleh uang.
Untuk sampai ke lokasi pabrik PT BIG di Sungai Melayu Rayak, dari jalan utama harus masuk lagi ke jalan setapak. Jalan ini bekas jalan perkebunan. Sepanjang jalan menuju pabrik, tidak ada aktivitas warga.
Di kiri kanan terdapat kebun sawit yang tidak terurus. Pepohonan sawit itu, hampir seluruhnya ditumbuhi rerumputan tinggi. Buah sawit di wilayah ini, juga sudah tak subur lagi. Bisa dilihat, buahnya banyak yang kering, seperti tak berisi.
Sekitar 10 menit perjalanan, Tribun tiba di bekas aset PT BIG. Di lokasi ini, pernah berdiri Kantor PT BIG. Namun, kantor sudah rata dengan tanah karena terbakar. Yang tersisa hanya puing-puing arang, bekas bangunan yang terbakar.
"Saya tak tahu apakah terbakar atau dibakar. Tapi kalau terbakar sendiri, rasanya tak mungkin. Mungkin dibakar karyawan atau masyarakat di sini," kata Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Sungai Melayu Baru, Darsono, kepada Tribun, Selasa (13/1/2015).
Karena tidak ada lagi yang tersisa dari kantor tersebut, Darsono mengajak Tribun melanjutkan ke areal PT BIG Selanjutnya. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, tiba di lokasi bekas bangunan penimbangan buah sawit.
Kondisinya sudah sangat kumuh. Rumput, semak belukar tumbuh tinggi. Nyaris menutupi bangunan. Meski sudah kusam, bangunan itu masih jelas terlihat berwarna biru muda. Di depan bangunan utama ada seperti teras, tempat pemberhentian kendaraan.
Baik bangunan maupun teras, langit-langitnya sudah banyak yang jebol. Sedang kaca, jendela, pintu, sudah tidak ada lagi. Hanya atap yang terbuat dari sirap yang masih terlihat bagus. Sementara itu, di sekeliling bangunan tersebut, terdapat rongsokan truk yang rata-rata dalam prosisi terbalik.
Sekitar 100 meter dari tempat penimbangan buah sawit ini, terdapat bangunan pabrik sawit PT BIG. Bangunan pabrik ini sangat besar. Kondisinya sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang bisa ditemui. "Kalau dahulu saat PT BIG masih beroperasi, di pabrik ini ada ratusan orang. Tapi sekarang, seperti kota mati. Kesannya angker. Tak ada aktivitas apapun di sini," jelas Darsono.
Bangunan bekas pabrik itu, sudah nyaris roboh. Pondasinya tak lagi kuat menahan beban. Lantai dan dinding sudah jebol. Sementara atapnya yang terbuat dari seng, hanya tinggal beberapa keping. Sisanya, sudah lepas.
Bangunan penyangga lainnya, sudah rata dengan tanah. Atapun kalau masih berdiri, rata-rata mengalami kerusakan parah. Sama seperti bangunan tempat penimbangan buah sawit, pabrik juga berwarna biru muda.
Sejauh mata memandang, di sekitar lokasi pabrik, bisa dilihat tanaman sawit terhampar luas. Karena tidak terawat, areal pabrik dan kebun di sekitarnya, menjadi tempat berkembang biak hama belalang.
Belalang sangat banyak dan mudah ditemui. Bahkan, di sepanjang jalan di dalam area perkebunan, anak-anak belalang berserakan di tengah jalan. Darsono menuturkan, dampak tidak beroperasinya PT BIG, sangat dirasakan masyarakat setempat.
Saat PT BIG beroperasi hampir semua warga Desa Sungai Melayu Baru, mengandakan pendapatan keluarga dari kelapa sawit. Karena itulah, ketika PT BIG berhenti beroperasi, banyak warga akhirnya tak lagi punya penghasilan. "Dampak berhentinya PT BIG cukup besar bagi warga desa," kenang Darsono.