Verifikasi KLA Kota Pontianak, Ini Penjelasan Lenny N Rosalin

Seperti menjadi korban trafficking, dieksploitasi, dirubah identitasnya sehingga dia diperdagangkan dan diperkerjakan

Verifikasi KLA Kota Pontianak, Ini Penjelasan Lenny N Rosalin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ SYAHRONI
Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak, Lenny N Rosalin. 

Verifikasi KLA Kota Pontianak, Ini Penjelasan Lenny N Rosalin

PONTIANAK - Tim Verifikasi Kota Layak Anak (KLA) dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) datang di Kota Pontianak guna melakukan verifikasi KLA di Pontianal.

Rombongan yang dipimpin oleh Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak, Lenny N Rosalin diterima langsung oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Selain itu, dihadirkan pula jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) Kota Pontianak.

Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak, Lenny N Rosalin menerangkan, kedatangan pihaknya ke Pontianak untuk melakukan verifikasi lapangan dalam rangka melakukan evaluasi Kota Pontianak menuju KLA 2019. 

Baca: Sutarmidji Selalu Sosialisasikan Hukum Perkawinan Islam dan Waris Ketika Safari Ramadan

Baca: PLN UIP Kalbagbar Gelar Media Briefing Serap Masukan Awak Media dan Bahas Interkoneksi Jaringan

Ia menegaskan setidaknya ada 24 indikator yang harus dipenuhi daerah untuk menunu KLA.

"Dari 24 indikator yang ada, lanjutnya, terbagi dalam beberapa kluster. Selain kluster kelembagaan, ada kluster hak sipil dan kebebasan," ucap Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak, Lenny N Rosalin saat diwawancarai awak media, Kamis (16/5/2019).

Lenny memaparkan  dalam kluster ini, memastikan semua anak memiliki akta kelahiran dan kartu identitas anak sehingga mereka tidak rentan terhadap penyalahgunaan identitas.

“Seperti menjadi korban trafficking, dieksploitasi, dirubah identitasnya sehingga dia diperdagangkan dan diperkerjakan,” kata Lenny.

Selain itu, harus ada informasi yang layak anak. Sebab menurutnya, sekarang ini tidak sedikit anak-anak yang memperoleh informasi yang tidak layak bagi anak seusianya.

Diingatkannya mengenai informasi yang mudah diakses melalui gadget yang sudah merajalela, pornografi, tayangan-tayangan penuh kekerasan, hal-hal berbau mistis dan lain sebagainya yang tidak layak bagi usia anak.

Partisipasi anak juga tak kalah pentingnya. Dengan dibentuknya Forum Anak bisa difungsikan menjadi pelopor dan pelapor (2P). 

Lenny menambahkan, kluster lainnya adalah lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. 

Penulis: Syahroni
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved