Tidak Ada Anak Nakal, Darmanelly: Anak Itu Banyak Akal

Zaman dulu tidak ada HAM dan sekarang sudah ada hukum yang mengatur. Tidak bisa berbuat sesuka hati, karena ada aturannya

Tidak Ada Anak Nakal, Darmanelly: Anak Itu Banyak Akal
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Syahroni
Kepala Pokja IV TP-PKK Kota Pontianak, Dokter Darmanelly 

Tidak Ada Anak Nakal, Darmanelly: Anak Itu Banyak Akal

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A)  Darmanelly meminta orangtua berhati-hati saat bertindak.

Pasalnya, lanjut dia anak-anak akan mencontoh perbuatan orang dewasa yang dilihatnya.

“Anak itu, mesin fotokopi. Apa yang dilakulan orang dewasa itulah yang ditiru mereka,” ujar Darmanelly dalam diskusi kegiatan sosialisasi Rencana Nasional Hak Asasi Manusia (Ranham) di Aula Sultan Syarif Abdurahman, Kantor Wali Kota Pontianak, Senin (18/03/2018).

Dalam kegiatan Ranham 2019 ini melibatkan semua unsur masyarakat mulai RW, RT, tokoh masyarakat, guru, kepala sekolah, pemerhati anak, mahasiswa dan lainnya. 

“Pada dasarnya tidak ada anak yang nakal, tapi anak itu banyak akal. Tinggal kita orang dewasa yang mengarahkan mereka ke hal positif, termasuklah guru, orangtua dan lingkungan mengarahkan mereka,” ujar Darmanelly.

“Zaman dulu tidak ada HAM dan sekarang sudah ada hukum yang mengatur. Tidak bisa berbuat sesuka hati, karena ada aturannya,” tambah Darmanelly lagi..

Diakuinya banyak dilema terkait cara mendidik anak di sekolah oleh guru. Menurutnya, sekarang disiplin positif, yaitu sebuah perjanjian ketika anak mulai sekolah.

Baca: Double Track Strategi, AHY: Demokrat Koalisi Prabowo-Sandi

Baca: Apresiasi Komunitas Donasi Buku Sekadau, Bahtiar: Kami Ucapkan Terimakasih

“Anak itu sendirilah yang membuat perjanjiannya. Misalnya kalau ia telat datang, maka apa hukumannya untuk dirinya sendiri. Membuat souvenir atau cerita, anak itulah mengukur dirinya mendapat hukuman apa atau anak disuruh ke perpustakaan menyimpulkan sebuah buku. Ada hal positif yang mereka dapatkan, bukan penderitaan atau pesakitan,” jelas wanita berhijab ini.

Untuk menjadi Kota Layak Anak (KLA), jelasnya, dilakukanlah pemenuhan terhadap semua hak anak mulai dari pendidikan, kesehatan, perlindungan dan pengasuhan, hak sipil dan kebebasan.

Terkait masih terjadinya kekerasan terhadap anak di Pontianak, lanjut Darmanelly, upaya pencegahan sudah dilakukan pihaknya.

“Kami sudah bentuk forum anak. Tujuannya, anak terbuka wawasannya,” pungkasnya.

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved