Soroti Partisipasi Pemilih di Sintang, Bupati Jarot: Jadi Magic Number Kita 78 Persen!

Bupati Sintang, Jarot Winarno menyampaikan bahwa indikator sukses dalam pelaksanaan pesta demokrasi Pemilu Presiden dan Legislatif 2019

Soroti Partisipasi Pemilih di Sintang, Bupati Jarot: Jadi Magic Number Kita 78 Persen!
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / WAHIDIN
Bupati Sintang, Jarot Winarno 

Soroti Partisipasi Pemilih di Sintang, Bupati Jarot: Jadi Magic Number Kita 78 Persen!

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Bupati Sintang, Jarot Winarno menyampaikan bahwa indikator sukses dalam pelaksanaan pesta demokrasi Pemilu Presiden dan Legislatif 2019 ini adalah partisipasi pemilih di Kabupaten Sintang minimal mencapai angka 78 persen.

"Angka kita terdekat itu Pilgub Kalbar kemarin 77 persen, masih kurang sedikit. Tetapi bagaimana dari 77 menjadi 78 itu perlu proses yang panjang dan melewati rintangan teknis," ujar Jarot kepada Tribun Pontianak, Jumat (15/3/2019) pagi.

Adapun rintangan teknis yang dimaksud misalnya soal perekaman E-KTP.

Kemudian juga peraturan soal pindah memilih, banyak yang di Kabupaten Sintang ini masyarakat yang tidak punya hak pilih karena E-KTP beda kecamatan.

"Dia KTP masih Serawai belum pindah ke Kecamatan Sintang. Jadi tidak bisa milih untuk surat suara caleg kabupaten. Batas pemilihan suara itu tanggal 17. Jadi perlu strategilah buat mereka ini cepat-cepat mengurus," katanya.

Baca: Yasarini Lanud Harry Hadisoemantri Menggelar Angkasa Expo 2019 Tingkat TK dan PAUD

Baca: Cegah Kriminalitas, Polsek Jawai Laksanakan Patroli Siang Hari

Baca: Kedatangan Prabowo Subianto Dinilai Pengamat Bisa Mempertebal Kalkulasi Elektoral

Baca: Bertandang ke Kalbar, AHY Bawa Dua Agenda Besar

Lanjutnya kalaupun lebih dari 78 persen masyarakat Sintang datang ke TPS, di TPS juga harus diatur sedemikian rupa. Sebab dengan lima surat suara tersebut, tentunya perlu waktu yang lebih lama dengan Pemilu sebelumnya.

"Saya sudah beri ilustrasi, 300 pemilih, 5 menit 1 orang, jadi 1500 menit jadi paling cepat jam 7 malam baru selesai nyoblos, kan tidak mungkin. Harus ada solusi lain menambah bilik-bilik suara misalnya, tetapi sesuai peraturan," katanya.

Kemudian menurutnya kesalahan dalam memilih juga masih banyak. Dirinya menyampaikan bahwa ilustrasi di pedalaman Kabupaten Melawi ada 100 suara yang disimulasikan, namun hanya 6 surat suara yang betul dicoblos.

"Dia saking bingung memilih calegnya yang tidak ada gambar tidak ada foto, akhirnya dia coblos gambar partainya. Kemudian masih adalah intimidasi, persekusi, maklum jelang Pemilu ini. Jadi magic number 78 persen," katanya.

Jarot menambahkan bahwa sudah dievaluasi dalam nilai indikator Demokrasi Indonesia, meskipun naik sedikit tapi masih kategori sedang yaitu 72 persen itu. Dari 11 indikator penilaiannya masih ada beberapa yang jadi persoalan.

"Misalnya masih adanya persekusi, kebebasan berserikat masih terhalangi, di aspek penyelenggaraan peran serta pemerintah daerah masih lemah. Kemudian kualitas partai politik selaku peserta pemilu masih rendah," katanya.

Oleh karena itu, untuk menyukseskan Pemilu Presiden dan Legislatif 2019 ini, pihaknya juga akan bekerja keras. Sehingga jangan sampai pelaksanaan pesta demokrasi terbesar ini pada akhirnya gagal karena sederet persoalan.

"Sudah kita ajak partai politik, dan kami jajaran Pemerintah Kabupaten Sintang lebih mensupport Pemilu ini supaya betul-betul jadi pesta demokrasi. Orang bilang ini pesta demokrasi paling gila, tapi kan nyoblos itu keren," tutupnya.

Penulis: Wahidin
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved