VIDEO: Tarian Angkat Ngayau Meriahkan Festival Crossborder Entikong 2019
Hal tersebut bertujuan menunjukan bahwa mereka memiliki kesaktian lebih dari yang lain untuk dapat melindungi wilayahnya.
Penulis: Destriadi Yunas Jumasani | Editor: Jamadin
Tarian Angkat Ngayau Meriahkan Festival Crossborder Entikong 2019
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Satu penampilan yang dibawakan oleh Perkumpulan Komunitas Benua Tampun Juah membuat penonton terbawa alur cerita tarian “Angkat Ngayau” yang berkolaborasi dengan musik kontemporer etnik tradisional yang dibawakan oleh komunitas yang lebih dikenal sebagai Team Bujang Senang di acara Festival Crossborder Entikong 2019 di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Sabtu (23/2/2019) siang.
Ketua Komunitas Benua Tampun Juah, Herkulanus menjelaskan tarian ini menceritakan kehidupan masyarakat adat Dayak Benua Tampun Juah pada zaman dahulu, yang masih bermukim di suatu tempat yang disebut benua dan masih mengamalkan adat tradisi mengayau atau berburu kepala.
Mengayau adalah satu diantara prosesi ritual adat Dayak pada zaman dahulu yang tradisi turun temurun untuk berburu kepala manusia dan kepala yang diburu juga bukan kepala sembarangan tetapi kepala orang yang terkuat di wilayah lain.
Baca: VIDEO: TMMD ke 104 Kodim 1201 Mempawah Resmi Dibuka, Dandim Jelaskan Hal Ini
Baca: VIDEO: HadirI Pembukaan TMMD ke 104 Kodim 1201/Mph, Ini Pernyataan Danrem 121/Abw
Hal tersebut bertujuan menunjukan bahwa mereka memiliki kesaktian lebih dari yang lain untuk dapat melindungi wilayahnya.
Dengan alasan kepala yang dipersembahkan akan diritualkan untuk suatu proses adat tradisi sebagai suatu syarat mendapat gelar lelaki pemberani atau bujang berani. Mengayau ada dilakukan perorangan dan ada juga yang dilakukan secara berkelompok.
“Saat ini ritual Ngayau ini tidak lagi diterapkan oleh masyarakat Dayak sejak lama, oleh karena itu ritual ini dilestarikan lewat tarian kontemporer seperti ini agak generasi penerus dapat memahami kebudayaan leluhur,” tutur Herkulanus.
Dalam tarian ini dikisahkan kehidupan masyarakat Dayak sejak kecil sudah diajarkan oleh orang tua dalam kegiatan kehidupan sehari-hari, sebagai bekal pertumbuhan mereka dalam kehidupan.
Mengingat pada masa itu kehidupan bermain anak-anak di dalam hutan, berdampingan hidup dengan alam, maka orang tua mengajarkan kemampuan bela diri memegang senjata tajam seperti mandau dan sumpit, yang dapat berguna untuk berburu.
Baca: VIDEO: Jadi Irup Pembukaan TMMD ke 104 Kodim 1201 Mempawah, Ini Harapan Wabup Landak
Tarian tersebut juga mengisahkan pasangan muda mudi di kampung yang mulai ada rasa ketertarikan satu sama lain, namun karena syarat adat yang menganjurkan seorang laki-laki harus turun mengayau sebelum menyunting seorang gadis maka kewajiban adat turun temurun mesti dilaksanakan.
Prosesi ritual adat pun dilaksanakan, sebelum keberangkatan berburu yang dilakukan tetua kampung. Dalam ritual yang disaksikan seluruh warga rumah panjang di benua itu, pemuda yang akan turun berburu mengelilingi Tiang Sandong Kenyalang tanda akan dikabulkannya suatu permohonan.
Dalam tarian ini juga prosesi ritual dilakukan permohonan kekuatan spiritual kepada Petara, Penempa atau Penompa atau Jubata yang diyakini masyarakat adat Dayak sebagai Dewa Penolong mendapatkan berkat kekebalan dan keberanian.
Selesai ritual pengisian kekebalan sudah di dapat masing-masing mereka menguji kemampuan yang sudah didapat, berangkatlah para pemuda dayak tersebut berburu kepala dengan harapan akan membuahkan hasil
“Ini adalah suatu seni ritual adat yang disakralkan dalam suku Dayak yang sudah jarang dilakukan,” tutur Herkulanus.
Herkulanus menambahkan Tampun Juah ini merupakan benua yang paling tua untuk daerah orang Dayak yang menetap di sekitar Kabupaten Sanggau.
Tampun Juah dipercaya sebagai awal mulanya orang-orang Dayak bahkan ada sebagian orang Malaysia yang berasal dari Dayak Tampun Juah.