Fenomena Cabul dan Hoax di Kawula Muda, Amrin: Saya Prihatin Sekaligus Heran

Jadi, dengan melihat kenyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa bukan perhatian terhadap kaum muda yang kurang

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIVALDI ADE MUSLIADI
Tokoh Pemuda Kabupaten Sekadau, Amrin Zuraidi Rawansyah 

Fenomena Cabul dan Hoax di Kawula Muda, Amrin: Saya Prihatin Sekaligus Heran

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Mengawali tahun 2019 dan dihadapkan pada berita hoax yang meresahkan, serta tiga buah berita pencabulan yang melibatkan anak muda, tentu sangat mengejutkan dan mengkhawatirkan.

Apakah telah terjadi sesuatu dalam masyarakat kita? Apakah kaum muda tidak diperhatikan?
Padahal kalau diperhatikan secara saksama, bukan tak kurang sarana, organisasi dan ruang yang disediakan, baik oleh pemerintah maupun swadaya masyarakat untuk menyalurkan aspirasi kaum muda.

Hal itu merupakan sedikit buah pikiran dari Tokoh Pemuda Kabupaten Sekadau Amrin Zuraidi Rawansyah. Ia sangat prihatin sekaligus heran dengan fenomena yang terjadi pada generasi penerus bangsa.

Di sekolah, kata dia, ada OSIS, Pramuka dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. Di masyarakat, ada perhimpunan pemuda semisal KNPI, Karang Taruna, Organisasi sayap partai untuk kaum muda, sanggar-sanggar, klub-klub hobi hingga penyelenggaraan lomba dan turnamen untuk menyalurkan bakat minat anak-anak muda.

"Jadi, dengan melihat kenyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa bukan perhatian terhadap kaum muda yang kurang. Lantas apa? Apakah organisasi yang diinisiasi pemerintah kurang cocok? Tidak juga. Sebab, jika tak cocok, sebagaimana anak-anak muda kreatif lainnya, mereka bisa membentuk klub-klub hobi maupun olahraga yang cocok dengan maunya mereka," ujarnya kepada Tribun, Minggu (3/2).

Baca: TERPOPULER- HEBOH Video Mesum Bertraining SMAN 1, Pesta Seks, Hingga Bella Luna Ferlin Kawin Kontrak

Baca: Kalbar 24 Jam- Wanita Teriak Histeris, Kodam XII/Tpr Tinjau Lokasi Longsor, Hingga Viral Video Mesum

Baca: Miris, 5 Pemuda Cabuli Gadis Bawah Umur di Sekadau! Pesan Singkat Pelaku Hingga Tangisan Korban


"Dalam hal ini, saya menilai, bahwa yang kurang adalah motivasi dalam diri. Kurangnya motivasi, menyebabkan energi kreativitas serta tindakan sebagai wujud eksistensi menjadi salah arah. Menjadi salah arah karena tidak memiliki orientasi ke masa depan," sambungnya.

Ia juga mengatakan, menanamkan motivasi dan orientasi hidup, bukan perkara instan. Perlu proses panjang dan harus dimulai dari dini. Mulai lingkungan keluarga, masyarakat sekitar rumah dan sekolah. Ini harus melibatkan seluruh sendi masyarakat.

Kejadian-kejadian awal tahun yang memprihatinkan ini, membuat kita teringat dengan pesan orang-orang tua zaman dahulu. Misal, sebagai orang tua, kita harus mengetahui dengan siapa saja anak-anak kita bergaul.

"Dengan pengetahuan ini, kita bisa memberi arahan pada anak tentang karakter manusia yang seperti apa yang pantas dijadikan sahabat, ataukah cukup sebagai teman saja, bahkan mungkin cukup sebagai kenalan belaka. Sebab, sebagaimana yang kita ketahui bersama, faktor pergaulan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seseorang," tukasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved