BMKG Mempawah : Kualitas Udara di Mempawah Capai Level Berbahaya
Pihaknya pun memprediksi bahwa dalam 5 hari kedepan, curah hujan di Wilayab Kabupaten Mempawah pada umumnya masih rendah.
Penulis: Ferryanto | Editor: Dhita Mutiasari
Laporan Wartawan Tribun Pontianak Ferryanto
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,MEMPAWAH- Hari ini, BMKG telah merilis data bahwa terdapat 400 titik Hotspot yang ada di seluruh wilayah Kalimantan Barat dan 5 di antarannya ada di Kabupaten Mempawah.
Kantor BMKG Kelas 2 Mempawah melalui bidang Forester atau prakirawan Adit mengatakan bahwa kondisi udara di Kabupaten Mempawah masuk dalam kategori sedang, namun pada hari ini senin (20/08/2018) masuk dalam kategori berbahaya.
Baca: Batas Pandang Menurun di Sungai Kapuas Akibat Polusi Asap
Baca: Hadiri Hari Jadi Mahkamah Agung, Pensiunan Pengadilan Agama Mempawah Ungkapkan Kebanggaannya
"Memang cukup terlihat dan kondisi asap sangat pekat pada hari ini, sebenarnya sejak bulan agustus dari tanggal 1 hingga 19 kemarin masih masuk dalam kategori sedang namun pada hari ini memang ada peningkatan, dan sudah mencapai level berbahaya,"ungkapnya. Senin (20/08/2018).
Pihaknya pun memprediksi bahwa dalam 5 hari kedepan, curah hujan di Wilayab Kabupaten Mempawah pada umumnya masih rendah.
"Hingga 5 kedepan untuk wilayah Kalimantan Barat masih cukup rendah, ada curah hujan namun signifikan, sehingga masih belum bisa untuk menanggulangi bencana asap yabg ada di Kalimantan Barat ini,"ungkapnya.
Iapun mengatakan bahwa di bila agustus secara umum berasal dari arah selatan dan barat daya dari pagi hingga sore hari, namun bila malam hari asap tidak terbawa angin dan terkonssentrasi di sebuah wilayah.
Dalam Website Resminya, BMKG melalui Stasiun Klimatologi Mempawah di Kalimantan Barat pun memaparkan bahwa hingga pukul 09.00 WIB, konsentrasi Particulate Matter (PM10) yang dianalisis berdasarkan pantauan alat kualitas udara di Stasiun Klimatologi Mempawah tertinggi sebesar *356.93 µg/m3* masuk dalam kategori *BERBAHAYA*.
Dengan Pengamatan visibility maksimum tercatat kurang dari 100 meter.
Yang mana Hal ini merupakan dampak lanjutan fase kering di Kalbar karena ,curah hujan yang di bawah normal sejak Juli 2018, yang mana Fase kering ini diikuti oleh kemunculan hotspot yang memicu kejadian kebakaran hutan dan lahan yang memproduksi asap.
Pihaknya pun mengungkapkan bahwa Secara umum curah hujan masih akan rendah hingga awal september, dan Diprediksi tren hujan baru akan naik pada pertengahan hingga akhir september 2018.
Dalam websitenya pun pihaknya Mengingatkan bahwa Kualitas udara yang tidak sehat dapat mengganggu kesehatan terutama pernafasan.
Masyarakat dihimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker dan minum air putih yang cukup agar terhindar dari gangguan kesehatan. Selain masalah kesehatan, jarak pandang yang rendah akan mengganggu keselamatan transportasi baik di darat, laut maupun udara.