Hadiri Hari Jadi Mahkamah Agung, Pensiunan Pengadilan Agama Mempawah Ungkapkan Kebanggaannya
Hal itu karena ia sudah menyatu dengan pengadilan, sehingga jika ada yang menghina pengadilan itu sama halnya dengan menghina dirinya.
Penulis: Dhita Mutiasari | Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Upacara Peringatan Hari Jadi Mahkamah Agung Ke-73 dilaksanakan secara bersama-sama oleh Pengadilan Agama dan Pengadilan Negeri Mempawah, Minggu (19/8/2018). Bertempat di halaman Pengadilan Negeri Mempawah, upacara tidak hanya diikuti oleh pegawai pengadilan yang masih aktif, namun juga dihadiri oleh pensiunan pengadilan.
Tercatat ada 10 pensiunan pengadilan yang hadir, baik dari Pengadilan Agama maupun Pengadilan Negeri. Mereka adalah Kamiluddin Mukhlisin, Sulaiman, Syekh Amiruddin, Rustam Anwar, Sayed Idris, Muhammad Nur, Syekh M Nuh, Bahrul Fuad Amid, Ratnawati dan Siti Fatimah.
Baca: Ular Piton Sepanjang 7 Meter Kagerkan Pengguna Jalan, Tonton Videonya
Baca: Peserta Gerak Jalan Mantapkan Kekompakan Tim untuk Bisa Menang
Seusai upacara, salah seorang pensiunan yang juga mantan Panitera/Sekretaris Pengadilan Agama Mempawah, Kamiluddin Mukhlisin, mengungkapkan kebanggaannya atas perkembangan lembaga peradilan saat ini, khususnya peradilan agama.
“Kondisi peradilan, khususnya peradilan agama, sekarang jauh lebih maju dibandingkan zaman ketika saya masih aktif. Gedung pengadilan sekarang tampak megah berwibawa. Fasilitas kerja lebih lengkap. Dan saya dengar sekarang ada remunerasi, berarti pegawai sekarang lebih sejahtera,” katanya di sela-sela menyaksikan perlombaan warga peradilan di halaman Pengadilan Negeri Mempawah.
Baca: Hari Ini, BMKG Keluarkan Hasil Pantuan Kualitas Udara di Kabupaten Mempawah
Baca: Hari Ini Bertanding, Pelatih Anggar Mempawah Ajak Doakan Mery Ananda di Asian Games
Kamiluddin mengaku, walaupun sudah pensiun sejak tahun 2006 namun ia masih mengikuti perkembangan lembaga tempat ia mengabdi selama sekitar 28 tahun.
Bahkan ia tidak terima apabila mendengar suara-suara di masyarakat yang merendahkan pengadilan.
Hal itu karena ia sudah menyatu dengan pengadilan, sehingga jika ada yang menghina pengadilan itu sama halnya dengan menghina dirinya.
“Saya tahu perkembangan (lembaga peradilan). Karena masih sering bertemu pegawai, baik karena ada yang datang ke rumah untuk silaturrahmi, atau karena saya diundang untuk suatu kegiatan. Selain itu saya juga dimasukkan group WhatsApp Keluarga Besar Peradilan Agama Kalimantan Barat yang beranggotakan semua yang pernah menjadi pegawai Peradilan Agama di Kalimantan Barat. Dari situ saya tahu banyak informasi,” ujar pria kelahiran Palembang 69 tahun silam.
Dengan kondisi sekarang yang lebih baik, Kamiluddin berpesan agar para pegawai dapat melaksanakan pelayanan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya. Jangan ada alasan untuk bermalas-malasan.
“Para pegawai sekarang harus banyak bersyukur. Syukuri karunia Tuhan ini, dengan cara bekerja yang baik. Hendaklah melayani masyarakat seoptimal dan semaksimal mungkin,” tegas Kamiluddin yang mengawali karir sebagai pegawai negeri di Pengadilan Agama Sintang tahun 1978. (*)