Ratusan Jemaah di Sanggau Gelar Shalat Gerhana Bulan

Ratusan jamaah mengikuti shalat gerhana digelar di Masjid Agung Al- Mu'awwanah Sanggau

Penulis: Hendri Chornelius | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/HENDRI CHORNELIUS
Ratusan Jamaah saat menunggu pelaksanaan shalat gerhana di Masjid Agung Al Mu'awwanah Sanggau, Sabtu (28/7/2018) pukul 01.30 Wib. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Hendri Chornelius

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Ratusan jamaah mengikuti shalat gerhana digelar di Masjid Agung Al- Mu'awwanah Sanggau, Sabtu (28/7/2018) pukul 01.30 Wib.

Bertindak selaku Imam Sholat Al Hafidz Ahmad Fauzan, Khotib Drs H Toyib Saefudin Al Ayubi. Ketua pelaksana sekaligus penanggung jawab kegiatan, H M Ghundar menyampaikan, shalat kali ini diikuti kurang lebih 300 jamaah.

“Jumlah tersebut memang lebih sedikit dari shalat Khusuf sebelumnya yang pernah dilaksanakan di Masjid Agung yang jumlahnya bisa mencapai ribuan, ” katanya.

Baca: BPJS Kesehatan Tetap Jamin Pelayanan Katarak, Rehabilitasi Medik, dan Bayi Baru Lahir Sehat

Kendati begitu, Ghundar mengaku bersyukur seluruh proses shalat gerhana bisa berjalan aman dan lancar.

“Alhamdulillah berjalan dengan aman dan lancar. Kita juga lakukan penjagaan ketat karena dilaksanakan dini hari, dibawah komando keamanan Untung Wahyudi dan pengatur lalu lintas Suryansyah, ” jelasnya.

Semetata itu, Khotib shalat gerhana, Drs H Toyib Saefudin Al Ayubi dalam khutbahnya menyampaikan bahwa gerhana bulan tidak berkaitan dengan kematian dan kelahiran seseorang. Gerhana terjadi karena kekuasaan Allah SWT.

“Rasul menyampaikan hal ini sebagai koreksi atas keyakinan masyarakat arab pra-Islam yang memahami gerhana sebagai tanda dari kematian dan kelahiran, ” tuturnya.

“Kebetulan ketika terjadi gerhana saat itu, anak Rasulullah, Ibrahim meninggal dunia. Ibrahim putra Rasulullah dari Marya Qibtiyyah. Dengan adanya khutbah tersebut, Rasul ingin menegaskan bahwa gerhana tidak ada kaitannya dengan kematian putranya atau siapa saja, ” tambahnya.

Lanjutnya, ketika terjadi gerhana, kita dianjurkan untuk shalat dan memperbanyak sedekah. Anjuran ini sebagaimana disebutkan secara jelas dalam hadits yang berbunyi Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bagian dari kekuasaan Allah.

“Gerhana bulan atau matahari terjadi bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, takbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakan shalat dan bersedekalah wahai umat, ” pungkasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved