DPRD Kalbar Nilai Upaya Wujudkan Kalbar Zero Rabies Masih Belum Optimal
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Barat menilai upaya mewujudkan Kalimantan Barat bebas rabies
Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Madrosid
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Barat menilai upaya mewujudkan Kalimantan Barat bebas rabies atau Zero Rabies masih belum optimal dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat.
Wakil Ketua DPRD Kalimantan Barat, H Suriansyah mengatakan dari tahun ke tahun tidak dipungkiri masih terjadi kasus positif rabies di beberapa kabupaten/kota yang ada di Kalbar.
Bahkan, jumlah kasus gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) yakni anjing terus merangkak naik dari bulan ke bulan sepanjang tahun 2018.
Baca: 7 Kades di Kubu Raya Diduga Terlibat Korupsi
“Dinas terkait saya pikir sudah melakukan pekerjaan yang diperlukan. Namun, kenyataan masih terjadi kasus positif rabies, maka dianggap belum maksimal. Perlu dimaksimalkan lagi,” ungkapnya saat diwawancarai Tribun Pontianak, Rabu (30/5/2018).
Politisi Gerindra ini menambahkan DPRD Kalbar bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalbar telah beberapa kali membahas masalah pencegahan dan penanganan rabies saat rapat dengan pendapat atau rapat kerja.
“Di dalam setiap pertemuan sudah ditegaskan agar pihak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan melakukan langkah-langkah yang diperlukan agar masalah rabies ini diatasi dan tidak menjadi masalah di Kalbar,” terangnya.
Satu diantara upaya pencegahan rabies adalah bekerjasama dengan pihak TNI dan POLRI dalam hal pemusnahan atau eliminasi HPR seperti anjing liar.
“Saya pikir sudah jelas apa yang harus dilakukan, tinggal keseriusan pihak Pemprov bekerjasama dengan pihak keamanan untuk menyelesaikannya,” katanya.
Ia menimpali legislatif Kalbar sangat mendukung pencegahan dan penangan rabies selama ini. Legislatif telah menyetujui anggaran yang diminta dan dukungan dalam bentuk lainnya.
“Sudah disetujui dan dipenuhi semua. Ini tergantung kepada pihak pelaksana untuk bisa menyelesaikan masalah rabies di Kalbar,” imbuhnya.
Suriansyah menimpali hingga kini rabies belum mempunyai obat penyembuh. Penanganan kasus gigitan anjing hanya bisa diatasi melalui penyuntikan Vaksin Anti Rabies (VAR). Selain itu, rabies hanya bisa dikendalikan melalui vaksinasi terhadap HPR khususnya hewan peliharaan.
“Kalau terjadi serangan gigitan anjing harus segera dibawa ke Fasilitas Kesehatan atau rumah sakit untuk diatasi. Masyarakat jangan takut disuntik vaksin ketika digigit anjing. Masyarakat juga jangan ragu vaksinasi hewan peliharaannya,” pintanya.
Suriansyah menambahkan harga vaksin rabies sangat mahal. Untuk melakukan vaksinasi terhadap hewan memerlukan petugas kesehatan hewan yang terspesialisasi dan memahami secara teknis masalah kesehatan hewan.
“Kami berharap dinas atau instansi pelaksana terus melakukan penyuluhan dan membuat laporan apabila ada indikasi terjadi serangan rabies. Kalau perlu untuk hal tertentu masyarakat harus melakukan pemusnahan anjing secara massal,” tukasnya.