Liputan Khusus

Paksa 500 Ribu Pelanggan Migrasi, 2018 PLN Terapkan Listrik Prabayar

Penggunaan sistem prabayar akan terbebas dari kesalahan baca dan pencatatan.

Editor: Jamadin
TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Rima Deskri Okta Valentina (19) saat mengisi token listrik rumah di satu di antara perumahan di Jalan Sui Raya Dalam, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (3/3/2018) sore. Humas PLN Wilayah Kalbar, Agi Risnandar mengungkapkan menggunakan Listrik Pintar, membuat konsumen dapat mengatur pemakaian sesuai kebutuhan. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK- PT PLN (Persero) Wilayah Kalbar terus mendorong 1.045.051 pelanggannya untuk bermigrasi dari sistem pascabayar menjadi prabayar. Saat ini, ada sekitar 500 ribu pelanggan PLN yang sudah menggunakan sistem prabayar. Sisanya, 500 pelanggan masih menggunakan sistem pascabayar.

Humas PLN Wilayah Kalbar Agi Risnandar mengatakan, program listrik pintar atau prabayar ini sudah bergulir sejak Oktober 2017. Namun, lanjutnya, digencarkan PLN pada Januari 2018. PLN Wilayah Kalbar menargetkan 100 persen pelanggannya menggunakan listrik pintar pada 2018 ini.

"PLN wilayah 1, sekitar 500 ribu, artinya berbanding 50/50. Kita imbau masyarakat beralih karena listrik pintar lebih murah dan secara tarif sama. Tempat pembelian voucher juga buka 24 jam, sehingga tidak perlu khawatir kehabisan," ujar Agi kepada Tribun Kamis (1/3).

(Baca: Tarian Tradisional Madura Iringi Resepsi Pernikahan Putri Sulung Ketua REI Kalbar )

Tujuan diluncurkan listrik pintar, kata Agi, dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, sehingga pelanggan mendapatkan kualitas layanan.

"Jangan takut beralih karena dengan listrik pintar justru lebih murah, mudah dan aman. Tarif sama dengan pascabayar. Pelanggan tak perlu khawatir meninggalkan rumah kosong karena aman dan pelanggan tidak perlu membayar biaya beban," ujarnya.

Agi menjelaskan, latar belakang diluncurkan produk listrik pintar karena banyaknya laporan pelanggan terkait kesalahan pencatatatan meter pada masyarakat pasca bayar.

Berdasarkan laporan masyarakat ke Ombudsman RI Perwakilan Kalbar, kata Agi, banyak masyarakat yang mengeluhkan kesalahan catat oleh petugas lapangan. Penggunaan sistem prabayar akan terbebas dari kesalahan baca dan pencatatan.

(Baca: Polres Landak dan Polsek Mandor Tangkap Empat Orang Pekerja PETI )

"Kami menindaklanjuti adanya laporan Ombusdman dengan mengeluarkan produk baru yang sebelumnya dari pasca bayar menjadi prabayar," ujarnya.

Pelanggan, lanjut Agi, juga harus mengetahui berbagai kelebihan sistem prabayar. "Kesalahan ini bisa menyebabkan salah perhitungan pemakaian pelanggan. Pelanggan juga bisa mengatur sendiri pemakaian energi listrik," ujarnya.

Pelanggan, katanya, dapat menyesuaikan pemakaian listrik sesuai anggaran rumah tangga atau kemampuan pelanggan. Pelanggan juga bebas dari petugas penagihan sehingga privasi pelanggan terjaga.

Agi memastikan, sistem prabayar lebih aman karena meteran prabayar mempunyai alat pendeteksi awal apabila ada gangguan pada instalasi listrik di rumah. "Listrik pintar bisa diisi di outlet-outlet yang bekerjasama dalam pemasaran melalui ATM, mobile banking, bisa juga melalui Tokopedia, Gojek dan e-commerce lainnya. Pembelian juga bisa di Indomaret, Alfamart dan PPOB terdekat," ujarnya.

(Baca: Menikah dengan Chicco Jerikho, Ini 5 Fakta Putri Marino yang Harus Kamu Tahu )

Jajaran PLN di daerah juga terus mendorong penerapan sistem prabayar. Manager PLN Rayon Ngabang Markus Adi mengaku tengah mengggenjot program ini. "Iya itu benar, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Ganeral Manager dan dimulai sejak 1 Januari 2018 kemarin," ujar Markus Adi kepada Tribun, Jumat (2/3).

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved