TribunPontianak/

Selidiki Dugaan Korupsi Ketua Gapoktan di Ketapang, Polisi Kantongi Calon Tersangka

Ia membenarkan bahwa pencairan dana Rp 250 juta tersebut tanpa ada rekomendasi dari pihaknya.

Selidiki Dugaan Korupsi Ketua Gapoktan di Ketapang, Polisi Kantongi Calon Tersangka
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / SUBANDI
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura DPPP Ketapang, Akhmad Humaidi, Kamis (8/2). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Subandi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Polres Ketapang sedang menyelidiki dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan Muhammad Amin. Pelaku merupakan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan Bersama di Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS).

Gapoktan Harapan Bersama merupakan gabungan delapan kelompok tani di MHS. Kasus ini berawal dari laporan satu di antara anggota Gapoktan Harapan Bersama, Abdul Kholik ke Mapolres Ketapang belum lama ini.

“Laporannya masuk ke Mapolres Ketapang pada pertengahan Januari 2018 lalu,” kata Kasat Reskrim Polres Ketapang, AKP Rully Robinson Polii kepada wartawan di Ketapang, Kamis (8/2).

Rully menjelaskan Kholik merupakan penerima kuasa dari beberapa kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan Harapan Bersama. Kemudian dalam laporannya Kholik menduga adanya tindak pidana korupsi tersebut.

(Baca: Kakanwil BPN Kalbar Pastikan Pelayanan BPN Sanggau Kembali Normal Setelah Minta Ini ke Kapolda )

Lantaran terhadap dana bantuan tanaman padi teknologi hazton senilai Rp 664 juta kepada Gapoktan Harapan Bersama. Meski dana bantuan masuk dalam satu rekening yakni milik Gapoktan Harapan Bersama yang ketuanya Muhaammad Amin.

Namun bantuan itu untuk dibagi kepada delapan kelompok tani yang masih-masing harusnya mendapatkan Rp 83 juta. Kemudian terhadap dana itu Muhammad Amin melakukan penarikan sebesar Rp 250 juga pada Agustus 2017.

Pada hal pencairan tersebut tanpa ada rekomendasi dari pihak Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan (DPPP) Ketapang. Selanjutnya oleh Muhammad Amin uang yang ditariknya tersebut dimasukkan ke dalam rekening pribadi.

“Ternyata seiring waktu terjadi gejolak di kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan Harapan Bersama tersebut. Lantaran beberapa kelompok tani tersebut merasa tidak ada menerima dampak pencairan dana Rp 250 juta itu,” jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Subandi
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help