TribunPontianak/

Kepedulian Masyarakat Terhadap Kebutuhan Gizi Anak Masih Rendah

Bahkan kalau ibunya penderita stunting, maka anak yang dilahirkannya kemungkinan besar akan stunting juga

Kepedulian Masyarakat Terhadap Kebutuhan Gizi Anak Masih Rendah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / MADROSID
Anggota konsorsium Yayasan Dian Tama, PPSW Borneo dan PKBI Kalbar merumuskan upaya pencegahan stunting bersama sejumlah pihak di Kalbar, di Hotel Golden Tulip, Rabu (13/9). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Madrosid

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Kepedulian masyarakat Kubu Raya terhadap kebutuhan gizi anak masih cukup rendah. Beberapa kasus masih menunjukkan terjadinya stanting/pendek terhadap anak, menyebabkan terganggunya pertumbuhan postur tubuh dan kecerdasan.

Pihak IMA World Healt telah memulainya di Kabupaten Landak untuk Kalbar melakukan kampanye gizi serta mendorong pemerintah daerah mulai melaksanakan pencegahan stanting.

Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Berli Hamdani mengungkapkan kondisi real, adanya potensi kasus stunting di Kabupaten Kubu Raya yang termasuk tinggi. Mencapai 24,1 persen berdasarkan pemantauan status gizi tahun 2016.

(Baca: Hasil CT Scan Guru SMP Wajok yang Tewas Diduga Akibat Dikeroyok ini Bikin Ngeri )

Sepanjang hulu atau akar permasalahannya belum diatasi. Satu diantaranya upaya peningkatan ketahanan pangan.

"Yang terjadi sekarang ini adalah penanganan kasus stunting. Artinya kita masih mengatasi akibat, dan ini sudah terlambat. Anak stunting/pendek tidak dapat dikoreksi lagi untuk tidak stunting. Karena penyebab stunting kan kurangnya asupan gizi kronis sejak dari kandungan. Bahkan kalau ibunya penderita stunting, maka anak yang dilahirkannya kemungkinan besar akan stunting juga," ujar Kadis, Rabu (13/9).

Dalam hal ini, upaya pencegahan Dinkes Kabupaten Kubu Raya salah satunya melalui Pemeriksaan Kehamilan ibu atau disebut ANC (ante natal care) di seluruh fasilitas pos pelayanan kesehatan termasuk posyandu oleh bidan atau dokter. Dukungannya juga melalui perbaikan Gizi Keluarga, melalui Gerakan KADARZI (keluarga sadar gizi), perbaikan menu keluarga dan pola makan keluarga. 

"Saat ini fokus program Gizi adalah pada 1000 HPK (hari pertama kehidupan), yaitu mulai usia kehamilan ibu 22 minggu sampai anak usia 2 tahun, harus bisa diperhatikan. Melalui PIS-PK GERMAS Hidup Sehat (program indonesia sehat melalui pendekatan keluarga, dan gerakan masyarakat hidup sehat), yang kalau di KKR kami sebut PKRS-PK GERMAS Hidup Sehat. Kami juga dibantu oleh Kader GERMAS KKR, yaitu kader posyandu dan dukun bayi yang bermitra dengan bidan desa," terangnya.

(Baca: Hasil Visum Dokter, Ini Penyebab Kematian Tragis Guru Wajok )

Berli menegaskan Kubu Raya memiliki potensi cukup tinggi sehingga peran sejumlah pihak, termasuk para bapak juga turut serta. Guna memnuhi gizi anak sejak dalam kandungan. Jika ini bisa terlaksana, dihrapkan kejadian stunting dapat ditekan serendah-rendahnya. 

"Paling tidak, kalau petugas kami bersama kader berkunjung ke rumah-rumah, jangan ditolak. Kesulitannya adalah setiap tenaga kesehatan (nakes) bersama kader harus memperoleh status kesehatannya dalam keluarga," ungkapnya.

Sedangkan untuk masalah kematian ibu dan balita. Dinas Kesehatan Kubu Raya masih akan melakukan kajian lebih lanjut.

"Sebab saat ini, jumlah kematian ibu dan bayi untuk hubungan antara stunting masih perlu kajian lebih lanjut, yang pastinya dalam hal ini, perlu biaya, tenaga, waktu, dan metode survey," pungkasnya. 

Penulis: Madrosid
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help