Style Blitz
Andalkan Jurus Syahadat 30
Padepokan seni bela diri Putra Setia, sudah melaksanakan kegiatannya sejak Tahun 1992-an.
Tayang:
Editor:
Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Bebalut pakaian hitam-hitam, belasan murid Padepokan Putra Setia bergerak lincah dan seirama ketika berlatih di padepokan yang beralamat di Jl H Rais A Rahman Bukit Raya III No 31 Pontianak. Selain latihan fisik, murid di sini juga diajarkan ilmu tenaga dalam dan fiqih.
Padepokan seni bela diri Putra Setia, sudah melaksanakan kegiatannya sejak Tahun 1992-an. Dipimpin oleh guru besar pencak silat, H Jailani. Berdirinya padepokan ini bermula seorang atlet Kalbar cedera ketika bertanding dengan pesilat dari Jawa Barat. Kemudian pesilat yang cidera diobati di pergurun Putra Setia Pusat di Jakarta.
"Saat itulah kami mendapat arahan dari guru besar untuk membuka cabang di Pontianak. Orang memanggil guru besar itu dengan sebutan Habib. Sekarang ia telah almarhum," terang Guru Muda Padepokan Putra Setia Pontianak, Sutopo
Padepokan Putra Setia sendiri, memiliki jurus andalan yang diberi nama 'Jurus Syahadat', yang mengandung arti, kalimah syahdat. Agar anggota Puta Setia dalam mengamalkan ilmunya selalu mengingat Allah, dan suri tauladan Nabi Muhammad SAW.
"Jurus Syahadat ini berjumlah 30 gerakan, mengambil hikmah dari kitab suci Alquran yang 30 juz, artinya anggota Perguruan dalam menjalankan doanya selalu berpedoman kepada Al Quran dan AL Hadis," paparnya.
Sejalan perkembangan waktu, Jurus Syahadat andalan Putra Setia berkembang menjadi tujuh jurus, masing-masing jurus berjumlah 30 gerakan. Di mana didalamnya terdapat jurus empat panser atau jurus empat penjuru dan juga jurus tenaga dalam.
Sedangkan makna dari tiujuh jurus adalah tujuh ayat yang berulang ulang, yaitu surat Al Fatiha atau juga disebut Umul Quran atau induk Al Quran.
"Ilmu ini mengandung arti bahwa perguruan Putra Setia menjadi induk berbagai aliran perguruan pencak silat yang ada," jelas Sutopo usai mengawasi muridnya.
Dikatakannya, selain bela diri tangan kosong, Putra Setia juga melakukan pengobatan, seni bela diri lain dengan tongkat, sajam. "Tapi itu untuk dipertandikan internasional, semua perguruan sama," terangnya.
Sutopo menerangkan, bela diri silat selain untuk jaga diri juga bisa untuk kesehatan. Di Padepokan Putra setia tidak memungut bayaran bagi yang ingin bergabung, hanya mengandalkan kerjasama.
"Maka dari itulah pedepokan ini eksis hingga sekarang. Kami bahu membahu membangun pusat latihan secara permanen," ujar Sutopo.
Untuk latihan, murid belajar di lantai dua rumah guru muda. "Awalnya dulu hanya di tanah merah latihannya. Lama kelamaan di bangun pakai kayu. Malah ribut saat latihan. Tapi Alhamdulillah, atas kerjasama anggota, dibuatlah bangunan permanen," papar Sutopo yang juga Kepala sekolah SMA Panca Bhakti ini.
Dulang Prestasi
Seorang murid Pedepokan Putra Setia Pontianak, Leni Listiani (17), mengaku menyukai pencak silat sejak kecil, hingga ia berlatih sejak masuk SMA. Tak pelak beragam prestasi pencak silat diraih perempaun yang tinggal di kawasan Tani Makmur Jl Kesehatan Gg Swakarya 1 B No 8 ini.
"Awalnya orangtua tidak merestui, katanya, buat apalah silat, masa depan tidak ada. Namun kemauan saya kuat hingga tetap berlatih," ujar gadis tomboy ini.
Sejak bersekolah di SMA Panca Bhakti, gadis kelahiran Singkawang 10 September 1995 ini, membuktikan, bahwa pencak silat juga bisa menuai prestasi.
Ia berhasil memperoleh juara pertama pada even Dispora Cup 2010, kelas D putri. Selain itu, juara pertama di Popda antar sekolah 2012. Dan Seleksi pelajar seKota Pontianak dan se provinsi mewakili Pontianak. "Alhamdulillah saya juga mendapatkan juara satu," papar anak pertama ini.
Tidak hanya itu, prestasi lain juga diperoleh Leni, sapaan akrabnya, pada Tahun 2012 ia juga menjuarai even Popwil Lampung di kelas E putri, mengalahkan perserta dari 6 provinsi.
"Terakhir kemarin 2013, O2SN antar pelajar se kota Pontianak kelas E Putri, saya mendapatkan juara satu, dan untuk se provinsi, saya memperoleh juara 3. Dan terakhir Desember 2013, saya mempersiapkan diri ikut Popnas di Jakarta," jelasnya.
Leni mengaku belajat silat bukan untuk sok jagoan namun untuk membela diri dan kesehatan. "Kami dididik dan diajari kalau tidak terpaksa, jangan digunakan. Kalau bisa ngalah sajalah," ujar gadis yang mengaku sebelum latihan silat suka pingsan saat upacara. (ken/tribun pontianak cetak)