Ramadhan 2026
Ramadhan dan Revolusi Konsumsi: Dari Israf Menuju Kesadaran Spiritual-Ekonomi
Masjid menjadi lebih ramai, lantunan tilawah Al-Qur’an terdengar di berbagai sudut kota, dan semangat berbagi meningkat.
Penulis: Nia Zulinda, M.A.
Dosen IAIN Pontianak
Setiap kali bulan Ramadhan tiba, suasana di lingkungankita pun ikut berubah.
Masjid menjadi lebih ramai, lantunan tilawah Al-Qur’an terdengar di berbagai sudut kota, dan semangat berbagi meningkat.
Namun, di sisi lain, ada fenomena yang juga ikutmenguat, yaitu lonjakan konsumsi.
Pusat perbelanjaan dipadati, belanja daring meningkat tajam, meja iftar dipenuhi aneka hidangan, dan pengeluaran rumah tangga sering kali justru lebih besar dibanding bulan-bulan biasa.
Pertanyaannya, apakah ini sejalan dengan ruh puasa?
Dalam perspektif Ekonomi Islam, Ramadhan sejatinya adalah momentum revolusi konsumsi, yaitu perubahan cara pandang dan perilaku ekonomi dari yang berorientasi hawa nafsu menuju kesadaran spiritual.
Dari israf (berlebihan) menuju i‘tidal (moderasi).
Dari sekadar memenuhi selera menjadi membangun kesadaran bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa adalah taqwa.
Dalam makna yang luas, takwa adalah kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam aktivitas ekonomi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Nia-Zulinda-MA-Dosen-IAIN-Pontianak.jpg)