Ramadhan 2026

Tidur Saat Puasa Disebut Ibadah, Begini Penjelasan Menurut Ulama dan Hadist

Segala amal kegiatan di bulan Ramadhan 2026 menjadi amal ibadah yang dianjurkan untuk dilaksanakan

Penulis: Madrosid | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/KOLASE/SID
ILUSTRASI - Tidurnya orang puasa disebut sebagai ibadah. Penjelasan ulama tetang tidur yang benar bagi orang yang puasa. 

Ringkasan Berita:
  • Sebab, Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa yang harus dimanfaatkan oleh setiap umat Islam.
  • Bahkan disebutkan tidurnya orang puasa merupakan bagian dari ibadah.
  • Hal itu untuk menunjukkan betapa mulianya Bulan Ramadhan.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Segala amal kegiatan di bulan Ramadhan 2026 menjadi amal ibadah yang dianjurkan untuk dilaksanakan.

Sebab, Bulan Ramadhan merupakan bulan istimewa yang harus dimanfaatkan oleh setiap umat Islam.

Bahkan disebutkan tidurnya orang puasa merupakan bagian dari ibadah.

Hal itu untuk menunjukkan betapa mulianya Bulan Ramadhan.

Sampai salah kaprah bahwa cukup dengan tidur saja sudah bisa mendapatkan ibadah.

Tak heran banyak mengisi hari di bulan puasa Ramadhan itu hanya dengan tidur saja.

Padahal tidur sebagai ibadah itu hanya sebutan supaya bisa lebih meningkatkan ibadah lainnya, sedangkan tidur itu secukupnya saja.

Dikalangan masyarakat, tidur adalah ibadah bagi orang yang puasa itu cukup terkenal.

Baca juga: Waktu Buka Puasa dan Imsak Melawi Hari Ini Ramadhan 2026, Terjadi Perubahan Waktu Imsak dan Buka

Lantas seperti apa penjelasan tentang tidur orang puasa yang sebagian dari ibadah ?

Hadist Tentang Tidurnya Orang Puasa

Dalam sebuah hadits berisi tentang ungkapan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, populer di kalangan umat Islam.

Sehingga hadits itu kerap digunakan sebagai dalih pembenaran untuk bermalas-malasan dan banyak tidur ketika sedang berpuasa.

Hadits tersebut berbunyi sebagai berikut:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ

“Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.” (HR Baihaqi).

Dikutip dari lama MUI, Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, menjelaskan banyak orang Muslim salah kaprah memahami hadits tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved