Kisah Emi Penjual Bunga Tabur depan TPU, Rela Bertahan Hingga 20 Tahun
Emi masih harus menghadapi kewajiban membayar cicilan rumah dan kendaraan setiap bulan.
Penulis: Ayu Nadila | Editor: Maudy Asri Gita Utami
Ringkasan Berita:
- Pendapatan yang diperolehnya dari berjualan bunga tabur pun tidak menentu. Dalam sehari, Emi mengaku terkadang hanya mampu membawa pulang uang sekitar Rp50 ribu. Nominal tersebut harus dibagi untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga.
- Menurutnya, uang Rp50 ribu saat ini terasa sangat cepat habis. Sebagian digunakan untuk membeli minyak goreng, telur, dan kebutuhan pokok lainnya sehingga nyaris tidak ada sisa untuk keperluan lain.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Di sudut Jalan Putri Dara Nante, tepat di depan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sungai Bangkong, Kota Pontianak, seorang perempuan bernama Emi tetap menjalani rutinitasnya setiap hari.
Di tengah terik matahari maupun hujan yang sesekali turun, ia setia menunggu pembeli di lapak sederhana tempatnya menjual bunga tabur untuk para peziarah.
Bagi Emi, aktivitas tersebut bukan sekadar pekerjaan, melainkan sumber penghidupan keluarga yang telah dijalani selama puluhan tahun.
Namun dalam beberapa waktu terakhir, tekanan ekonomi yang ditandai dengan kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) membuat kehidupannya semakin berat.
Perempuan yang menggantungkan penghasilan dari usaha kecil tersebut mengaku merasakan langsung dampak melonjaknya harga sembako.
Menurutnya, hampir seluruh kebutuhan rumah tangga mengalami kenaikan sehingga semakin menyulitkan masyarakat berpenghasilan rendah.
• Yayasan Relawan Peduli Kemanusiaan Sekadau Resmi Diakui Pemerintah, Fokus Peduli Kemanusiaan
"Harga beras naik, minyak goreng naik, bahan kebutuhan dapur juga naik. Kalau beli di warung harganya lebih mahal dibandingkan di agen. Sementara penghasilan keluarga tidak bertambah," ujarnya, Rabu 17 Juni 2026.
Pendapatan yang diperolehnya dari berjualan bunga tabur pun tidak menentu. Dalam sehari, Emi mengaku terkadang hanya mampu membawa pulang uang sekitar Rp50 ribu. Nominal tersebut harus dibagi untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga.
Menurutnya, uang Rp50 ribu saat ini terasa sangat cepat habis. Sebagian digunakan untuk membeli minyak goreng, telur, dan kebutuhan pokok lainnya sehingga nyaris tidak ada sisa untuk keperluan lain.
"Kadang dapat Rp50 ribu. Beli minyak goreng satu liter sekitar Rp25 ribu, beli telur Rp10 ribu. Sudah habis. Sekarang uang Rp50 ribu rasanya tidak cukup untuk banyak kebutuhan," tuturnya.
Usaha bunga tabur yang dijalankannya bukanlah usaha baru. Emi telah menekuni pekerjaan tersebut selama kurang lebih dua dekade sebagai usaha turun-temurun yang diwariskan keluarganya.
Selain mempertahankan usaha keluarga, pekerjaan itu juga memungkinkannya tetap berada dekat dengan anak-anak sambil mencari nafkah.
Ia mengatakan bahwa usaha tersebut diwariskan sejak generasi neneknya dan hingga kini masih terus dipertahankan karena telah memiliki pelanggan tetap yang datang untuk membeli bunga tabur saat berziarah.
Meski demikian, kondisi ekonomi yang semakin menantang membuat Emi harus lebih cermat dalam mengatur pengeluaran rumah tangga.
Ia mengaku kini lebih selektif saat membeli bahan makanan dan memilih lauk-pauk dengan harga yang lebih terjangkau.
harga sembako naik
pedagang bunga tabur Pontianak
TPU Sungai Bangkong
pedagang kecil pontianak
Kisah Inspiratif Pontianak
Harga Sembako Kalbar
dampak kenaikan sembako
| Kisah Munir Jalani Dua Profesi, Jadi Pemulung dan Tukang Bangunan Demi Hidupi Keluarga di Pontianak |
|
|---|
| Mampu Raup Rp1 Juta Semalam, Intip Suka Duka Usaha Sewa Mobil Mainan di Alun-alun Kapuas Pontianak |
|
|---|
| Update Harga Sembako Kalbar 11 April 2026, Cabai Rawit Tembus Rp122 Ribu per Kg |
|
|---|
| Antisipasi Lonjakan Harga, Polisi Cek Sembako ke Sejumlah Toko Jelang Lebaran |
|
|---|
| Satgas Saber Pangan Kalbar Cek Harga Sembako di Pasar Kemuning, Selama Ramadan Harga Tetap Stabil |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Pedagang-Bunga-Tabur-di-TPU-Sungai-Bangkong.jpg)