Ragam Contoh
China Jadi Magnet Baru Mahasiswa Internasional 2026, Program STEM Paling Diminati
Ketertarikan mahasiswa global untuk kuliah di China menunjukkan tren peningkatan yang konsisten
Ringkasan Berita:
- Mayoritas mahasiswa internasional berasal dari Asia, diikuti oleh Afrika, yang menunjukkan adanya pergeseran arah diplomasi pendidikan global.
- Strategi ini dinilai efektif dalam memperluas pengaruh sekaligus memperkuat kerja sama internasional di sektor pendidikan.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Keinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri terus meningkat di kalangan mahasiswa global, termasuk dari Indonesia.
Memasuki tahun 2026, peta tujuan pendidikan internasional mengalami pergeseran yang cukup signifikan.
Jika sebelumnya negara-negara Barat mendominasi, kini kawasan Asia mulai tampil sebagai pusat baru pendidikan tinggi dunia dengan daya tarik yang semakin kuat.
Salah satu negara yang kini menjadi destinasi favorit mahasiswa internasional adalah China.
Berdasarkan laporan dari Times Higher Education, tercatat sekitar 380.000 pelajar asing yang berasal dari 191 negara dan wilayah saat ini sedang menempuh pendidikan di berbagai universitas di negara tersebut.
Ketertarikan mahasiswa global untuk kuliah di China menunjukkan tren peningkatan yang konsisten, khususnya pada tahun akademik 2024–2025.
Lonjakan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan didorong oleh strategi diplomasi pendidikan melalui program Belt and Road Initiative.
• Lonjakan Kasus Kanker Perempuan di Indonesia 2021–2025 Meningkat, Ini Resikonya
Inisiatif tersebut berhasil membuka akses luas bagi mahasiswa, terutama dari kawasan Asia dan Afrika, untuk melanjutkan studi di kampus-kampus unggulan di Negeri Tirai Bambu.
Dalam hal pilihan jurusan, bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi sektor yang paling diminati. Sekitar 28 persen mahasiswa tingkat gelar memilih program studi seperti teknik, teknologi terapan, hingga ilmu komputer.
Hal ini menunjukkan bahwa China semakin diakui sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan fasilitas riset yang kompetitif di tingkat global.
Meski mengalami peningkatan signifikan, para pengamat menilai bahwa China masih membutuhkan waktu untuk kembali mencapai jumlah mahasiswa internasional tertinggi seperti sebelum pandemi pada tahun 2018.
Namun demikian, dominasi pelajar dari kawasan Asia yang mencapai 61 persen dan Afrika sebesar 16 persen semakin mengukuhkan posisi China sebagai pusat pendidikan baru dunia.
Fenomena ini juga mencerminkan pengaruh geopolitik China yang kian menguat, terutama di negara-negara berkembang.
Mayoritas mahasiswa internasional berasal dari Asia, diikuti oleh Afrika, yang menunjukkan adanya pergeseran arah diplomasi pendidikan global.
Strategi ini dinilai efektif dalam memperluas pengaruh sekaligus memperkuat kerja sama internasional di sektor pendidikan.
Seorang peneliti pendidikan tinggi dari Tsinghua University, Wen Wen, menegaskan bahwa peningkatan jumlah mahasiswa asing ini bukanlah fenomena yang terjadi secara tiba-tiba.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut merupakan hasil dari kebijakan jangka panjang yang terencana dengan baik, khususnya dalam mengintegrasikan pendidikan dengan strategi geopolitik dan ekonomi global.
Dengan kombinasi biaya pendidikan yang relatif terjangkau, kualitas akademik yang terus meningkat, serta dukungan kebijakan internasional yang kuat, China diprediksi akan terus menjadi salah satu destinasi utama bagi mahasiswa internasional dalam beberapa tahun ke depan.
"Ada pergeseran strategis dalam asal-usul mahasiswa, dengan pertumbuhan signifikan dari Afrika dan negara-negara Belt and Road, yang selaras dengan penjangkauan diplomatik dan ekonomi China yang lebih luas," ungkap Wen Wen, dikutip dari laman Times Higher Education.
Di sisi lain, ketegangan dengan negara Barat mengakibatkan penurunan drastis jumlah mahasiswa dari Amerika Serikat, dari angka 11.000 menjadi kurang dari 1.000 orang. Hal ini mempertegas adanya polarisasi dalam pilihan destinasi studi global saat ini.
• Disdikbud Pontianak Ungkap SPMB 2026 SD dan SMP Negeri Dilakukan Secara Daring
Keunggulan Kuliah di China: Biaya Terjangkau dan Riset Berkualitas
Mengapa China menjadi primadona baru untuk gelar STEM? Salah satu alasan utamanya adalah transformasi citra pendidikan China yang kini lebih mengedepankan kapabilitas industri daripada sekadar pertukaran budaya.
Manajer Cabang China di konsultan Bonard, Graze Zhu, memberikan pandangannya terkait daya tarik jurusan teknik di sana.
"Ada pergeseran dari fokus masa lalu pada bahasa dan budaya ke kenyataan baru di mana kemampuan industri yang kuat telah secara langsung bertransformasi menjadi keunggulan kompetitif inti dalam daya tarik pendidikan," jelas Graze Zhu.
Senada dengan hal tersebut, Richard Coward selaku CEO Global Admissions menambahkan bahwa faktor biaya dan kualitas sumber daya menjadi kombinasi yang sulit ditolak
"Kursus STEM di China menarik karena biaya kuliah yang terjangkau, permintaan dari seluruh dunia, serta kualitas dan sumber daya yang tinggi di China," tambah Coward.
Ambisi Menjadi Hub Pendidikan Global dan Pengakuan UNESCO
Meski angka 380.000 ini sudah cukup besar, para analis memprediksi butuh waktu sekitar empat tahun lagi bagi China untuk benar-benar kembali ke level puncaknya sebelum pandemi (492.000 mahasiswa). Untuk mencapai itu, China terus berbenah dengan meningkatkan standar kualitas input mahasiswa.
Wen Wen kembali menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang lebih inklusif agar mahasiswa asing merasa betah.
"Secara keseluruhan, China harus menanamkan lingkungan yang lebih internasional yang menumbuhkan lingkungan yang lebih terbuka, layak huni, dan bersemangat secara budaya bagi semua orang," tegasnya.
Pemerintah China pun mulai melirik penyederhanaan visa dan aturan kerja paruh waktu bagi mahasiswa internasional demi meningkatkan student experience di sana.
Daftar Kampus Populer dan Munculnya Hub Pendidikan Baru
Seiring dengan meningkatnya minat terhadap China, beberapa universitas seperti Tsinghua University, Peking University, dan Fudan University tetap menjadi tujuan elit.
Namun, kampus dengan spesialisasi teknik seperti Zhejiang University dan Shanghai Jiao Tong University kini semakin populer bagi pemburu gelar STEM.
Tidak hanya di China, peta mobilitas pelajar dunia per 2026 juga mulai bergeser. Beberapa destinasi yang diprediksi akan terus naik daun hingga 2030 di antaranya:
- Asia: Jepang, Malaysia, dan Korea Selatan.
- Timur Tengah: Uni Emirat Arab (Dubai) dan Arab Saudi.
- Eropa: Jerman
- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
kuliah di China 2026
mahasiswa internasional China
universitas terbaik China
biaya kuliah luar negeri murah
jurusan STEM favorit
data mahasiswa asing China
kuliah luar negeri Asia
kampus terbaik China
Meaningful
| Lonjakan Kasus Kanker Perempuan di Indonesia 2021–2025 Meningkat, Ini Resikonya |
|
|---|
| Masuk Usia 30-an? Ini Tips Anti-Aging Berbasis Sains dari Dr Amir Khan agar Tubuh Tetap Bugar |
|
|---|
| 50 Kumpulan Soal Ujian Fiqih Kelas 2 SD Lengkap dengan Kunci Jawaban |
|
|---|
| 50 Soal Agama Katolik Kelas 2 SD Kurikulum Merdeka 2026, Lengkap Kunci Jawaban |
|
|---|
| 50 Soal Matematika Kelas 2 SD Kurikulum Merdeka 2026, Lengkap Kunci Jawaban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/The-Truth-Within-drama-China.jpg)