BMKG Peringatkan Potensi Rob 2 Meter di Pontianak, Warga Diminta Waspada
“Masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Kalau ada apa-apa segera lapor ke RT, RW, atau lurah, supaya bisa sama-sama kita tanggulangi."
Ringkasan Berita:
- BMKG memperingatkan potensi banjir rob di Pontianak pada 20–21 Mei 2026 akibat pasang laut tinggi.
- Warga di tepian Sungai Kapuas mulai bersiap dengan mengamankan barang penting dan elektronik ke tempat lebih tinggi karena banjir rob sering terjadi setiap tahun.
- Di wilayah Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu, hujan deras menyebabkan banjir dan longsor. Sebanyak 35 desa terdampak, terutama di Kayan Hulu dan Kayan Hilir.
- Banjir merendam rumah, jalan, hingga menyebabkan satu rumah hanyut.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kalimantan Barat kembali menghadapi potensi bencana hidrometeorologi berupa banjir rob dan banjir kiriman yang melanda sejumlah wilayah.
Masyarakat di daerah pesisir dan bantaran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul peringatan dari pihak berwenang.
BMKG Maritim Pontianak mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir rob di wilayah Pontianak pada 20–21 Mei 2026.
Ketinggian air laut diperkirakan dapat mencapai hingga 2 meter. Warga di sepanjang Sungai Kapuas mulai bersiap dengan mengamankan barang-barang penting ke tempat yang lebih tinggi.
Sejumlah warga mengaku sudah terbiasa menghadapi kondisi banjir rob yang terjadi hampir setiap tahun. Mereka melakukan langkah antisipasi seperti memindahkan barang elektronik, dokumen penting, dan peralatan dagang sebelum air naik.
Seperti yang dikatakan Siti (60), pedagang warung di kawasan Tepian Sungai Kapuas Kota Pontianak. Ia mengaku telah terbiasa menghadapi kemungkinan banjir rob seperti tahun-tahun sebelumnya.
• 6 Peristiwa Terpopuler Kalbar! Jadwal Puncak Banjir Rob Pontianak Mulai 19 Mei 2026
“Ya bagaimana persiapannya seperti tahun sebelumnya. Kalau ada pelampung ya siapkan pelampung,” ujarnya, Minggu 17 Mei 2026
Perempuan yang sudah lebih dari 40 tahun berada di kawasan tersebut itu mengatakan banjir rob bukan hal baru baginya. Bahkan, kawasan tersebut menurut dia sudah sering terdampak pasang air sejak dulu.
Siti menuturkan, ketinggian air pada tahun-tahun sebelumnya bahkan pernah mencapai sekitar satu meter hingga masuk ke dalam bangunan tempat ia berjualan.
“Kalau dulu sih sampai 1 meter, kadang-kadang setengah meter. Kalau sekarang agak kurang karena jalannya sudah diperbaiki,” ucapnya.
Menurutnya, saat banjir datang dirinya biasanya hanya bisa bertahan sambil menjaga barang-barang yang ada di dalam warung maupun rumah.
Ia belum memastikan apakah barang dagangannya akan segera dipindahkan menjelang prediksi pasang air laut tersebut, karena masih melihat perkembangan nantinya.
“Ya liat gimana nanti tanggal 20-annya. Takutnya sudah capek angkut barang, ternyata tidak banjir,” katanya.
Meski begitu, ia memastikan dokumen dan barang penting akan lebih dulu diamankan apabila air mulai meninggi. Ia berharap prakiraan pasang air laut tersebut tidak sampai menyebabkan banjir besar seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Sama halnya dengan Ade, warga pesisir tepatnya di Gg Darsyad, Jalan Imam Bonjol, Kota Pontianak. Ia juga mengaku terbiasa dengan kondisi tersebut.
"Banjir sudah biasa masuk rumah, seperti tahun lalu ,” katanya.
Ia menjelaskan, kejadian itu terjadi karena kondisi air sedang pasang yang disertai hujan dan angin yang kencang. Dengan adanya kondisi tersebut, ia pun mengaku telah siap mengantisipasi kondisi-kondisi tersebut.
"Ya kalau antisipasi si kayak biasa saja. Paling barang-barang elektronik kita simpan di meja kayu yang sedikit lebih tinggi," jelasnya.
Prakiraan pasang air laut juga di antisipasi warga termasuk pelaku usaha di kawasan Taman Alun-alun Kapuas Pontianak.
Salah satunya Feri (54), penyedia sewa mobil mainan anak. Ia mengaku sudah terbiasa menghadapi pasang air tahunan yang kerap merendam area tersebut pada pagi hari.
“Kalau banjir ini kan tidak lama, paling dari pagi, jam 11 sudah mulai surut. Aktivitas kami mungkin dari jam 3 sore sampai malam,” ujarnya.
Menurutnya, saat air mulai naik kendaraan mainan langsung dipindahkan ke tempat aman agar tidak terendam banjir.
“Jadi kendaraan ini kami amankan dulu kalau pagi. Kalau sore aman lagi, baru kami keluarkan dan ditata kembali. Biasanya memang begitu, jadi kalau nanti air naik lagi ya seperti biasa dipindahkan lagi,” katanya.
Feri yang sudah 5 tahun menyediakan sewa mobil mainan tersebut mengatakan kondisi pasang biasanya berlangsung sekitar tiga hari sebelum kembali normal.
Ketinggian air juga cenderung meningkat setiap harinya hingga mencapai puncak.
Meski tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas, pasang air tersebut tetap berdampak pada pendapatan karena jam operasional menjadi lebih singkat.
“Pengaruh lah kalau pagi tidak buka. Biasanya hitungannya dari pagi sampai malam. Kalau cuma ambil sore, ada lah dapat, cuma tidak full,” ucapnya.
Ia pun berharap kondisi pasang tidak berlangsung lama agar aktivitas masyarakat dan pelaku usaha di kawasan tepian Kapuas tetap berjalan normal.
Imbauan BMKG
Berdasarkan rilis yang dikeluarkan oleh BMKG Maritim Pontianak, memprakiraan kondisi pasang air laut terjadi itu terjadi dan perlu untuk diwaspadai sejak 19 hingga 22 Mei 2026.
BMKG pun mengimbau agar masyarakat tetap mewaspadai kondisi tersebut dan siap terhadap dampak yang mungkin saja terjadi. Terutama bagi masyarakat yang berada di bantaran sungai perlu untuk diwaspadai terhadap potensi terjadinya banjir rob ini.
Selain itu, BMKG juga menyarankan agar seluruh masyarakat dapat mengikuti perkembangan terbaru (update) peringatan dini banjir ROB dan informasi cuaca lainnya di Maritim BMKG.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin, mengingatkan bahwa secara geografis Pontianak memiliki kerentanan terhadap kenaikan muka air.
"Pontianak memang berada di bawah permukaan air laut. Air pasang atau curah hujan tinggi pasti air naik," ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah bersama DPRD telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk meminimalisir dampak banjir, di antaranya melalui pengerukan parit-parit di sejumlah titik di Kota Pontianak.
Selain itu, Satarudin juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama pada waktu-waktu puncak pasang yang telah diprakirakan.
"Masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Kalau ada apa-apa segera lapor ke RT, RW, atau lurah, supaya bisa sama-sama kita tanggulangi," katanya.
35 Desa Terendam
Sementara itu, banjir telah melanda Kabupaten Sintang sejak pertengahan Mei 2026, dengan puncak genangan dilaporkan semakin parah pada Minggu, 17 Mei 2026. Bencana ini dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari
BPBD Kabupaten Sintang memperbarui data hingga Minggu siang, jumlah desa terdampak meningkat signifikan dari laporan awal menjadi 35 desa di tiga kecamatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sintang, Benyamin, menyampaikan bahwa wilayah paling parah terdampak banjir berada di Kecamatan Kayan Hulu dan Kecamatan Kayan Hilir.
Berdasarkan data sementara yang diterima BPBD, banjir kini merendam 14 desa di Kecamatan Kayan Hulu, 20 desa di Kecamatan Kayan Hilir, serta 1 desa di Kecamatan Kelam Permai.
Benyamin menjelaskan, kondisi paling parah dilaporkan terjadi di wilayah Nanga Laar dan Pakak, yang berada di kawasan Kayan Hulu dan Kayan Hilir. Kenaikan debit air dipicu curah hujan tinggi di wilayah hulu sungai dalam beberapa hari terakhir.
“Data sementara sekitar 35 desa terdampak banjir. Yang paling parah di Kayan Hulu dan Kayan Hilir, khususnya wilayah Nanga Laar dan Pakak,” ujar Benyamin.
Tim reaksi cepat BPBD saat ini masih melakukan koordinasi dan pendataan lanjutan di lapangan untuk memastikan jumlah warga terdampak, kondisi permukiman, serta akses transportasi yang terputus akibat genangan.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan daerah rawan genangan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama jika hujan masih terjadi di wilayah hulu karena berpotensi menambah tinggi muka air di sejumlah desa terdampak.
Dampak curah hujan, membuat sejumlah desa di Kecamatan Silat Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, mengalami banjir, sehingga merendam ruas jalan dan pemukiman warga setempat.
Desa yang terendam banjir terutama wilayah pinggir sungai, dan banjir terjadi sejak Sabtu 16 Mei 2026, akibat curah hujan di daerah perhuluan sungai.
Banjir dan Longsor
Kapolsek Silat Hulu, AKP Jaspian menyampaikan, hasil pantauan di lapangan ada empat desa yang terdampak banjir yaitu, Desa Landau Badai, Desa Nanga Ngeri, Desa Dangkan Kota, dan Desa Nanga Dangkan.
"Banjir yang terjadi merupakan, banjir kiriman dari wilayah hulu sungai, akibat meningkatnya debit air setelah hujan deras dalam beberapa hari terakhir," ujarnya.
Sedangkan ketinggian banjir di Desa Landau Badai (Dusun Sumber Maju dan Dusun Nanga Pengga), dengan ketinggian air berkisar antara 50 hingga 80 sentimeter.
Sementara itu di Desa Nanga Ngeri, banjir merendam Jalan Dusun Pelita Jaya dan Dusun Kepala Gurung dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 70 sentimeter.
Kondisi serupa juga terjadi di Desa Dangkan Kota, di mana genangan air setinggi 50 hingga 120 sentimeter merendam Jalan Poros Dangkan Kota–Bongkong, kawasan depan Mapolsek
Silat Hulu serta pemukiman warga yang berada di bantaran sungai.
Adapun di Desa Nanga Dangkan, banjir merendam Jalan Poros Dangkan Kota–Nanga Entibab dan Jalan Dusun Tanjung Harapan dengan ketinggian air mencapai 150 sentimeter di beberapa titik.
Akibat banjir tersebut, arus lalu lintas kendaraan di sejumlah jalan poros desa dilaporkan lumpuh dan tidak dapat dilalui kendaraan.
Selain banjir, longsor juga terjadi di jalan poros Desa Riam Tapang Kecamatan Silat Hulu menuju Desa Landau Kumpang Kecamatan Hulu Gurung.
Hingga saat ini masyarakat Desa Riam Tapang masih bergotong royong membersihkan material longsor menggunakan alat seadanya, agar akses jalan dapat kembali dilalui kendaraan, mengingat jalan tersebut merupakan salah satu jalur utama masyarakat.
Menyikapi kondisi tersebut, personil Polsek Silat Hulu melaksanakan monitoring perkembangan banjir, puting beliung dan longsor, guna memastikan situasi masyarakat tetap aman dan terkendali.
Kapolsek mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir susulan maupun longsor, terutama bagi warga yang tinggal di bantaran sungai dan daerah rawan bencana.
"Kami terus melakukan monitoring situasi di lapangan guna memastikan keamanan serta keselamatan masyarakat tetap terjaga," ungkapnya. (rul/ags/ayu/peg)
Prihatin Banjir hinga Hanyutkan Rumah Warga
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sintang, Anastasia menyampaikan keprihatinannya atas kondisi banjir yang melanda sejumlah kecamatan, terutama di Kayan Hulu dan Hilir.
Menurutnya, banjir yang kini tidak hanya merendam permukiman tetapi juga telah menghanyutkan rumah warga dan ini harus menjadi perhatian serius semua pihak.
“Banjir kali ini sudah menimbulkan kerusakan rumah warga. Ini bukan hanya soal genangan, tetapi sudah menyangkut keselamatan dan tempat tinggal masyarakat. Pemerintah harus hadir cepat di tengah kondisi seperti ini,” ujar Anastasia.
Ia meminta BPBD bersama instansi terkait segera turun langsung ke lokasi terdampak, terutama desa-desa di sepanjang jalur Sungai Tebidah yang mengalami dampak paling berat.
Selain pendataan, ia menilai kebutuhan mendesak seperti logistik, tempat pengungsian sementara, serta bantuan untuk korban rumah rusak harus segera disiapkan.
Menurut Anastasia, penanganan awal sangat penting agar masyarakat yang terdampak tidak menghadapi situasi sendirian.
“Saya menyarankan BPBD segera memperkuat koordinasi dengan camat, kepala desa, TNI-Polri, dan relawan untuk memastikan warga yang rumahnya rusak maupun yang masih terisolasi mendapatkan bantuan secepatnya. Jangan menunggu air semakin tinggi baru bertindak,” tegasnya.
Ia juga meminta pemerintah daerah menyiapkan langkah jangka panjang, termasuk pemetaan daerah rawan banjir di bantaran sungai dan edukasi kesiapsiagaan kepada masyarakat, mengingat banjir di wilayah hulu Sintang kerap berulang saat curah hujan tinggi.
Anastasia berharap seluruh pihak dapat bergerak bersama agar dampak banjir di Kayan Hulu dan Kayan Hilir tidak semakin meluas, serta warga yang terdampak segera mendapatkan perhatian dan bantuan yang dibutuhkan.
Berdasarkan data sementara BPBD Kabupaten Sintang, banjir telah merendam 35 desa di tiga kecamatan, yakni 14 desa di Kayan Hulu, 20 desa di Kayan Hilir, dan 1 desa di Kelam Permai. Wilayah yang dilaporkan paling parah terdampak berada di kawasan Nanga Laar dan Pakak.
Sementara itu, data dari jajaran kepolisian menyebutkan banjir di Desa Nanga Abai, Kayan Hulu, telah menyebabkan satu rumah hanyut total beserta isinya dan satu rumah lain bergeser akibat derasnya arus luapan Sungai Tebidah. Beruntung, seluruh penghuni rumah selamat dan tidak ada korban jiwa.
- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!
BanjirRob
banjir
BMKG
SungaiKapuas
KapuasHulu
Sintang
BencanaAlam
WaspadaBanjir
CuacaEkstrem
InfoBencana
| Jadwal Puncak Banjir Rob Pontianak Mulai 19 Mei 2026, Pasang Air Laut Diprediksi 2 Meter |
|
|---|
| Cuaca Kalbar Besok 19 Mei 2026 di 14 Daerah! Pontianak dan Kubu Raya Diguyur Hujan |
|
|---|
| Waspada Banjir Rob di Pontianak, DPRD Pontianak Imbau Warga Hati-hati |
|
|---|
| Timbulkan Kerusakan Parah, DPRD Sintang Minta BPBD Sigap Tangani Banjir di Kayan Hulu |
|
|---|
| Banjir di Kayan Hulu Sintang, Satu Rumah Warga Hanyut dan Satu Bergeser |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Banjir-Sintang1805.jpg)