Kenaikan LPG Non-Subsidi Dikeluhkan Warga Pontianak, Pengeluaran Ikut Naik
Kenaikan harga LPG non-subsidi untuk tabung 5,5 kilograma dan 12 kilogram juga dirasakan oleh warga di Kota Pontianak.
Penulis: Peggy Dania | Editor: Try Juliansyah
Ringkasan Berita:
- Sejumlah warga mengaku pengeluaran rumah tangga menjadi lebih besar sejak harga LPG non-subsidi mengalami kenaikan pada April 2026.
- Salah seorang warga Komplek Untan, Lia, yang menggunakan LPG non-subsidi tabung 5,5 kg mengatakan kenaikan harga tersebut cukup berdampak terhadap kebutuhan sehari-hari.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Kenaikan harga LPG non-subsidi untuk tabung 5,5 kilograma dan 12 kilogram juga dirasakan oleh warga di Kota Pontianak.
Sejumlah warga mengaku pengeluaran rumah tangga menjadi lebih besar sejak harga LPG non-subsidi mengalami kenaikan pada April 2026.
Salah seorang warga Komplek Untan, Lia, yang menggunakan LPG non-subsidi tabung 5,5 kg mengatakan kenaikan harga tersebut cukup berdampak terhadap kebutuhan sehari-hari.
“Sangat terasa. Pengeluaran jadi makin besar. Ditambah beberapa barang lain juga naik harganya,” ujarnya kepada tribunpontianak.co.id, Rabu 22 April 2026,
Meski demikian, ia menyebut penggunaan LPG non-subsidi masih relatif terkendali dalam satu bulan.
Namun, menurutnya kenaikan harga LPG non-subsidi tetap dirasa memberatkan terutama karena kondisi ekonomi yang tidak mengalami peningkatan tapi pengeluaran terus naik.
Ia menambahkan, hingga saat ini dirinya masih bertahan menggunakan LPG non-subsidi meski tidak menutup kemungkinan akan beralih jika kondisi ekonomi semakin sulit.
“Sejauh ini kami tetap menggunakan LPG non-subsidi. Kecuali nanti kalau kondisinya mendesak karena faktor ekonomi atau kelangkaan, baru kemudian beralih ke subsidi,” jelasnya.
Baca juga: Pesan Gubernur Ria Norsan di Hari Kartini : Perempuan Harus Hadir Lewat Karya Nyata
Lia juga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap ketersediaan dan harga LPG di pasaran.
“LPG dan bahan bakar seharusnya menjadi perhatian pemerintah terkait menjaga persediaan di pasar, distribusi dan harga. Efek naiknya LPG akan sebabkan kenaikan harga barang pokok, beban usaha UMKM dan lain-lain,” katanya.
Ia menilai, kenaikan harga LPG non-subsidi pada April 2026 berpotensi memicu dampak ekonomi yang lebih luas seperti inflasi, meningkatkan biaya logistik dan transportasi, serta menekan daya beli masyarakat.
Lebih lanjut, ia menyoroti kondisi ekonomi masyarakat yang dinilai semakin sulit.
“Masyarakat Indonesia saat ini sudah banyak yang semakin kesulitan terutama dari segi ekonomi. Kenaikan LPG meskipun non-subsidi justru akan memperburuk dan kemungkinan besar menjadi sebab meningkatnya jumlah masyarakat miskin,” tuturnya.
Sementara itu, warga lainnya, Mario Purwantoro, juga mengaku merasakan dampak serupa.
Warga Jalan Sungai Raya Dalam ini mengatakan saat ini menggunakan LPG non-subsidi tabung 12 kilogram.
| Pesan Gubernur Ria Norsan di Hari Kartini : Perempuan Harus Hadir Lewat Karya Nyata |
|
|---|
| Bulog Kalbar Rakor Percepatan Penyerapan Gabah Petani di Sambas |
|
|---|
| Wawako Muhammadin Pimpin Pembukaan TMMD Imbangan ke-128 TA 2026 Kodim 1202/Skw |
|
|---|
| LPG 3 Kg Masih Stabil, Tapi LPG 5 Kg dan 12 Kg Naik di Kota Singkawang |
|
|---|
| Antisipasi Karhutla, DLH Kalbar Dorong Sinergi hingga Tingkat Masyarakat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/ngkalan-Gas-LPG-Sus.jpg)