Kini Jadi Indikator Kesehatan, Berat Badan Tak Bisa Diabaikan
obesitas kini tidak lagi dipandang sekadar kondisi fisik, melainkan sudah masuk dalam kategori penyakit.
Penulis: Ayu Nadila | Editor: Try Juliansyah
Ringkasan Berita:
- Ia menjelaskan bahwa selama ini masyarakat masih kerap salah kaprah dalam memandang obesitas.
- Menurutnya, obesitas berkaitan erat dengan berbagai penyakit, baik kardiovaskular maupun metabolik.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga di RSUD dr Soedarso, dr. Izzuddin Fathoni, Sp.K.O Subsp APK (K), menegaskan bahwa obesitas kini tidak lagi dipandang sekadar kondisi fisik, melainkan sudah masuk dalam kategori penyakit yang berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan serius.
Ia menjelaskan bahwa selama ini masyarakat masih kerap salah kaprah dalam memandang obesitas.
"Karena obesitas itu kalau dulu dianggapnya sebagai gambaran fisik saja ya. Fisik, oh kamu gendut, kamu apa gitu. Padahal sekarang obesitas itu sudah masuk dalam ranah penyakit ya. Karena semua penyakit metabolik biasanya bermula dari obesitas," ujarnya kepada tribunpontianak.co.id, Minggu 5 April 2026.
Menurutnya, obesitas berkaitan erat dengan berbagai penyakit, baik kardiovaskular maupun metabolik.
"Mau dia penyakit kardiovaskular atau penyakit metabolisme jantung. Kemudian penyakit kardiovaskular tadi itu jantung, stroke, apapun ya. Terkait dengan tingginya kolesterol dan lain-lainnya," katanya.
Selain itu, obesitas juga berhubungan dengan penyakit metabolik lainnya seperti diabetes hingga gangguan kesuburan.
"Kemudian metabolik, DN, yang terkenal sih diabetes mellitus gitu ya. Kemudian tadi untuk yang ketidakseimbangan kesuburan PCOS, itu metabolik juga," tambahnya.
Ia menekankan bahwa berat badan kini sudah menjadi indikator penting dalam penilaian kesehatan seseorang.
Baca juga: Kapolsek Singkawang Selatan Hadiri Loka Mini Lintas Sektoral, Sinergi Dukung Kesehatan Masyarakat
"Jadi memang masyarakat harus lebih dekat melihat bahwa berat badan itu bukan hanya sekedar ukuran. Sekarang ini sudah menjadi tanda vital kita ya. Jadi sudah masuk, bukan hanya tensi, nadi atau apa. Berat badan berapa? Nah itu nanti akan masuk tuh," jelasnya.
Ia juga menyoroti perubahan pola pandang masyarakat dari masa lalu hingga sekarang, di mana kondisi tubuh gemuk kerap dianggap sebagai tanda sehat.
"Kalau dulu zaman kita dulu masih mengikuti zaman dahulu yang trendnya dulu itu bukan kegemukannya. Tapi bagaimana gizi buruk. Nah sekarang ke depan, mulai dari tahun-tahun belakangan ini, justru orang yang kita katakan kalau di bahasa Melayu sehat. Wah anakmu sebetulnya gendut kan? Kita biasanya orang Melayu bilang sehat, padahal itu tidak sehat," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat untuk mendeteksi obesitas sejak dini guna mencegah komplikasi penyakit.
"Jadi obesitas sekarang sudah menjadi satu rumpun penyakit sendiri ya. Bukan hanya sekedar oh kemuk gitu aja. Tapi merupakan hal-hal yang harus ditanggulangi. Artinya masyarakat harus aware dengan obesitas," tegasnya.
Ia juga menganjurkan masyarakat untuk rutin memeriksa berat badan saat berkunjung ke fasilitas kesehatan.
"Obesitas itu sudah harus menjadi, ya tadi saya bilang. Begitu dia masuk puskesmas timbang badan tuh tanya aja kepada petugasnya. Saya normal apa enggak," katanya.
| Wawako Singkawang Lakukan Survei Rumah Warga, Mantapkan Program Bedah Rumah Layak Huni |
|
|---|
| Target 30 KDKMP Beroperasi pada Juli 2026, Rudi: 19 Sudah Dibangun di Mempawah |
|
|---|
| Anggota DPRD Kalbar Desak Evaluasi Menyeluruh Usai Kecelakaan Bus Damri di Sanggau |
|
|---|
| Bus DAMRI Alami Kecelakaan di Jalan Penyeladi Sanggau, Satu Korban Meninggal Dunia |
|
|---|
| Kecelakaan Bus Damri di Sanggau, GM Damri Cabang Pontianak : Sedang Dimonitor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/ani-Minggu-5-April-2026.jpg)