Karhutla di Kalbar

WALHI Kalbar Soroti Karhutla dan Penurunan Kualitas Udara di Kalbar

WALHI Kalimantan Barat menyoroti kembali terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik di Kalbar.

Penulis: Peggy Dania | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
KARHUTLA KALBAR 2026 - Petugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gang Cahya Baru, Jalan Parit H Husin II, Kelurahan Bangka Belitung Darat, Kecamatan Pontianak Tenggara, pada Kamis, 5 Maret 2026. Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Barat, Sri Hartini, mengatakan kebakaran tersebut terjadi di wilayah yang secara geografis dan geologis didominasi tanah gambut dalam. 

Ringkasan Berita:
  • Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Barat, Sri Hartini, mengatakan kebakaran tersebut terjadi di wilayah yang secara geografis dan geologis didominasi tanah gambut dalam.
  • Ia menjelaskan, kebakaran yang terjadi tidak terlepas dari kondisi cuaca panas ekstrem yang melanda di Kalbar. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Barat menyoroti kembali terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik di Kalbar yang berdampak pada penurunan kualitas udara. 

Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Barat, Sri Hartini, mengatakan kebakaran tersebut terjadi di wilayah yang secara geografis dan geologis didominasi tanah gambut dalam.

“Kebakaran hutan dan lahan kembali berulang, kali ini terjadi di beberapa titik di Serdam dan Limbung Kabupaten Kubu Raya. Secara geografis dan geologis, wilayah Sungai Raya Dalam (Serdam) dan Limbung di Kubu Raya memiliki karakteristik tanah gambut yang dalam,” ujar Sri kepada tribunpontianak.co.id, Jumat 27 Maret 2026. 

Ia menjelaskan, kebakaran yang terjadi tidak terlepas dari kondisi cuaca panas ekstrem yang melanda di Kalbar. 

“Hal ini telah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan akan ada kemarau panjang dimulai April hingga Oktober,” lanjutnya.

Menurutnya, karhutla yang terus berulang juga dipengaruhi oleh kerusakan ekosistem gambut yang semakin kritis.

“Selain itu kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang ini tidak terlepas dari kerusakan yang terjadi pada ekosistem gambut. Dimana pada kawasan ekosistem gambut yang kritis ketika memasuki musim kemarau, akan terjadi penurunan muka air tanah menyebabkan gambut menjadi sangat kering dan mudah terbakar,” katanya.

Baca juga: Karhutla di Anjungan Dalam Mempawah, Babinsa dan Tim Gabungan Gerak Cepat Padamkan Api

Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi pemicu munculnya titik panas yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas apabila tidak segera dimitigasi.

Sri menilai kondisi ini mengkhawatirkan, terutama terhadap kualitas lingkungan dan udara di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya.

“Hal ini pastinya sangat mengkhawatirkan, terutama bagi kualitas lingkungan dan udara di Kota Pontianak dan Kubu Raya. Berdasarkan informasi dari situs IQAir hari Jumat 27 Maret 2026, kualitas udara di Kota Pontianak dan Kubu Raya berada di angka AQI US (151) kategori tidak sehat,” ungkapnya.

Ia menyebut kondisi tersebut dipicu oleh kabut asap yang hebat akibat kebakaran di sejumlah titik.

Lebih lanjut, pihaknya mendorong pemerintah untuk tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga melakukan langkah pencegahan secara serius.

“Dalam hal ini pemerintah provinsi harus mengambil langkah preventif dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan. Karena selama ini pemerintah sifatnya selalu reaktif dalam menangani karhutla, padahal karhutla terus terjadi setiap tahunnya dan bahkan BMKG telah memprediksi perkiraan cuaca dan potensi ancaman karhutla,” tegasnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved