Soroti Antrean BBM Subsidi, Anggota DPRD Suriansyah Minta Penanganan Distribusi Lebih Merata
Solar ini masih jadi persoalan karena tidak semua SPBU menyediakannya, dan sopir angkutan barang masih bergantung pada Solar subsidi
Penulis: Ferlianus Tedi Yahya | Editor: Jamadin
Ringkasan Berita:
- Ketergantungan masyarakat terhadap BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar menjadi salah satu faktor utama terjadinya antrean panjang.
- Sementara itu, BBM non subsidi seperti Pertamax, Dexlite, dan Pertamina Dex justru dalam kondisi cukup bahkan cenderung berlebih karena minim peminat.
TRIBUNPONPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Suriansyah menilai kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi belakangan ini lebih disebabkan oleh lonjakan permintaan menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026, serta kepanikan masyarakat akibat disinformasi terkait stok BBM.
Menurutnya, secara umum distribusi BBM dari Pertamina ke sejumlah SPBU berjalan lancar. Namun, tingginya permintaan masyarakat secara bersamaan membuat stok di tingkat SPBU menjadi cepat habis.
“Ini bukan karena distribusi tersendat, tetapi lebih kepada panic buying. Ketika semua masyarakat datang bersamaan ke SPBU, tentu stok yang tersedia menjadi terbatas,” katanya kepada tribunpontianak.co.id, Selasa 24 Maret 2026.
Ia menjelaskan, ketergantungan masyarakat terhadap BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar menjadi salah satu faktor utama terjadinya antrean panjang.
Sementara itu, BBM non subsidi seperti Pertamax, Dexlite, dan Pertamina Dex justru dalam kondisi cukup bahkan cenderung berlebih karena minim peminat.
“Awalnya masyarakat hanya berebut Pertalite, tetapi karena antrean panjang, akhirnya Pertamax juga ikut diserbu. Ini yang menyebabkan lonjakan permintaan di dua jenis BBM tersebut,” ungkapnya.
• BBM Langka Warga Kalbar Harus Antre 4 Jam, Anggota DPR-RI Cornelis: Pertamina Harus Bertanggungjawab
Suriansyah juga menyoroti maraknya pengecer dadakan yang memanfaatkan situasi dengan membeli BBM dalam jumlah besar untuk dijual kembali dengan harga tinggi.
“Kami melihat ada fenomena pengecer baru yang mengambil peluang dari kondisi ini. Bahkan margin penjualannya bisa lebih dari 100 persen di tingkat eceran,” jelasnya.
Kendati demikian, ia menilai kondisi tersebut membawa dampak positif secara bertahap karena mulai mengubah pola konsumsi masyarakat.
“Ada hikmah di balik ini. Perlahan masyarakat mulai beralih ke Pertamax sehingga beban terhadap Pertalite sedikit berkurang dan antrean mulai terurai,” katanya.
Namun, ia menegaskan bahwa antrean masih berpotensi terjadi pada BBM jenis Solar. Hal ini disebabkan belum meratanya distribusi serta belum beralihnya para sopir truk ke BBM non subsidi seperti Dexlite atau Pertamina Dex.
“Solar ini masih jadi persoalan karena tidak semua SPBU menyediakannya, dan sopir angkutan barang masih bergantung pada Solar subsidi,” ujarnya.
Ia memperkirakan setelah momentum Lebaran, antrean BBM jenis Pertalite dan Pertamax akan berangsur normal.
Namun, untuk antrean Solar diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
“Saya yakin satu minggu setelah Lebaran, kondisi akan kembali normal untuk Pertalite dan Pertamax. Tapi untuk Solar, perlu penanganan lebih lanjut,” pungkasnya.
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!
| Polresta Pontianak Amankan Pelaku Dugaan Penimbunan BBM Subsidi, 9 Jerigen Disita |
|
|---|
| Warga Masih Pilih Naik Kapal Penyebrangan di Penjajab Pemangkat |
|
|---|
| Kebijakan Sekolah Daring dan Tatap Muka Disiapkan, Pontianak Sesuaikan Kondisi Lapangan |
|
|---|
| Pemudik dari Luar Kota Dominasi Kepadatan Lalu Lintas Pontianak |
|
|---|
| Petugas Gabungan di Landak Patroli ke SPBU, Cegah Pengantri Untuk Menimbun BBM |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Suriansyah-saat-diwawancari-TribunPontianakcoid-di-Kantor-DPRD-Kalbar-Kamis-30.jpg)