BBM Langka Warga Kalbar Harus Antre 4 Jam, Anggota DPR-RI Cornelis: Pertamina Harus Bertanggungjawab

“Saat saya jadi gubernur dulu, berulang kali saya minta untuk menambah stok BBM di Kalbar, tapi tidak pernah terealisasi"

Penulis: Widad Ardina | Editor: Syahroni
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID
ANTRE BBM - Antrian panjang di SPBU Kota Singkawang, menanggapi hal ini Mantan Gubernur Kalimantan Barat dua periode yang kini menjabat sebagai Anggota Komisi XII dan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Cornelis, menagih tanggung jawab Pertamina atas kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Sambas. 

Ringkasan Berita:
  1. Cornelis meminta Pertamina wilayah Kalimantan Barat, Pertamina Regional Kalimantan di Balikpapan, hingga Pertamina pusat segera menambah pasokan dan mengatasi persoalan distribusi BBM.
  2. Ia menilai distribusi BBM yang saat ini terpusat di Pontianak sangat berisiko, sehingga Kalbar membutuhkan infrastruktur penyangga seperti pelabuhan besar untuk menampung dan mendistribusikan pasokan BBM agar kelangkaan tidak kembali terjadi.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Sambas dan sejumlah daerah lain di Kalimantan Barat menjadi sorotan berbagai pihak. 

Kondisi ini bahkan memaksa masyarakat harus mengantre berjam-jam di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk mendapatkan BBM.

Anggota DPR RI dari Komisi XII dan Badan Anggaran (Banggar), Cornelis, menegaskan bahwa pihak Pertamina harus bertanggung jawab atas kelangkaan Pertalite yang terjadi di Kabupaten Sambas dan daerah terdampak lainnya seperti Singkawang.

Baca juga: Apakah BBM Langka? Warga Sambas Rela Antre 4 Jam Demi Dapatkan Pertalite di SPBU

Menurut Cornelis, kondisi tersebut sangat menyulitkan masyarakat karena mereka harus rela mengantre hingga empat jam hanya untuk mendapatkan BBM. 

Dengan pengalaman panjangnya sebagai mantan Gubernur Kalimantan Barat dua periode, Cornelis mengaku telah lama mengingatkan pentingnya penambahan kuota BBM di wilayah tersebut.

Ia menyebut, jauh sebelum krisis terjadi di Sambas, dirinya telah menyampaikan hal itu dalam Rapat Dengar Pendapat bersama BPH Migas pada 29 Januari 2026.

“Saat saya jadi gubernur dulu, berulang kali saya minta untuk menambah stok BBM di Kalbar, tapi tidak pernah terealisasi"

"Bahkan, saya sampai bolak-balik ke Balikpapan untuk mengurus ini, karena pusat Pertamina Regional Kalimantan ada di sana,” tegas Cornelis.

Baca juga: Melonjak Lagi! Harga BBM Terbaru Resmi Berlaku Maret sampai April 2026 di SPBU Seluruh Indonesia

Ia menegaskan bahwa tanggung jawab atas kelangkaan BBM tersebut tidak hanya berada pada Pertamina wilayah Kalimantan Barat, tetapi juga Pertamina Regional Kalimantan yang berpusat di Balikpapan.

Cornelis mendesak agar pasokan BBM segera dikirim ke Kalimantan Barat guna mengatasi antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU.

Selain itu, ia juga meminta agar Pertamina pusat segera turun tangan melakukan intervensi untuk memastikan tidak ada kendala distribusi maupun persoalan non-teknis yang menyebabkan krisis pasokan.

Ia bahkan mengkhawatirkan adanya kemungkinan oknum yang memberikan tekanan kepada SPBU di Kabupaten Sambas sehingga berdampak pada masyarakat.

“Pertamina pusat harus segera melakukan intervensi agar tidak ada kendala di lapangan. Saya khawatir ada indikasi oknum tidak bertanggung jawab yang menekan SPBU sehingga merugikan masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, Cornelis juga memberikan catatan penting terkait solusi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi di Kalimantan Barat.

Ia menilai sistem distribusi BBM yang saat ini terpusat di Pontianak memiliki risiko tinggi jika terjadi gangguan pasokan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved