Ramadhan 2026

Ramadan dan Tradisi Ngabuburit, MUI Kalbar Ingatkan Jangan Abaikan Salat Magrib

Basri mengatakan, seringkali masyarakat berkumpul untuk berbuka puasa bersama tetapi setelah waktu berbuka tiba justru tidak segera menunaikan

Penulis: Peggy Dania | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Peggy Dania
DAGANG TAKJIL - Warga membeli berbagai takjil di lapak takjil serba Rp10 ribu saat ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa di Jalan Parit Haji Husein 2, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu 14 Maret 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Barat, Basri Har, menilai tradisi tersebut memiliki nilai positif selama dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat.
  • Namun, ia mengingatkan agar kegiatan ngabuburit tidak membuat umat Islam melalaikan kewajiban utama terutama melaksanakan salat Magrib.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Tradisi ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa menjadi salah satu kegiatan yang populer di kalangan masyarakat selama bulan Ramadan.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Barat, Basri Har, menilai tradisi tersebut memiliki nilai positif selama dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat.

“Tradisi ngabuburit ada nilai positifnya, yaitu mempererat ukhuwah dan menjadi syiar agama sepanjang dilaksanakan sesuai syariat,” ujarnya, Sabtu 14 Maret 2026

Namun, ia mengingatkan agar kegiatan ngabuburit tidak membuat umat Islam melalaikan kewajiban utama terutama melaksanakan salat Magrib.

Makna Puasa dan Kebersamaan Ramadan Lebih Terasa bagi Warga Pontianak

Basri mengatakan, seringkali masyarakat berkumpul untuk berbuka puasa bersama tetapi setelah waktu berbuka tiba justru tidak segera menunaikan salat Magrib.

“Kadang ramai berbuka, tapi setelah berbuka banyak yang tidak beranjak dari tempat berbuka untuk salat Magrib. Padahal waktu salat Magrib itu pendek,” katanya.

Ia menegaskan bahwa ibadah puasa seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan haus tetapi juga diiringi dengan ketaatan menjalankan ibadah lainnya.

“Apa arti puasa kalau salat lima waktu ditinggalkan. Ini yang harus diperbaiki,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyebut bulan Ramadan menjadi bulan yang selalu dirindukan umat Islam karena memiliki banyak keistimewaan salah satunya pahala yang dilipatgandakan.

“Karena banyak keistimewaannya, pahala dilipatgandakan. Al-Qur’an turun pertama kali pada bulan Ramadan dan ada malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih dari seribu bulan kurang lebih 83 tahun,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, puasa menjadi ibadah yang melatih kejujuran seseorang terutama jujur terhadap diri sendiri. 

“Indikator orang bertakwa antara lain percaya kepada yang gaib, taat melaksanakan salat, senang berbagi rezeki, mampu menahan marah dan mudah memaafkan. Semua ini bisa diperoleh dengan berpuasa yang baik, tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi seluruh anggota tubuh juga ikut berpuasa,” pungkasnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved