Pahami Behavioral Finance, Investor Dapat Mengambil Keputusan dengan Bijak
Keputusan finansial yang tepat umumnya didukung oleh kondisi ekonomi dan mental yang sehat. Ketika kondisi ekonomi dan mental...
Ringkasan Berita:
- Dengan memahami Behavioral Finance diharapkan investor mendapatkan pertimbangan dan wawasan baru dalam pengambilan keputusan finansial yang lebih bijaksana.
- Investor dengan nilai perilaku herding behavior yang tinggi cenderung membuat keputusan investasi yang sama dibandingkan dengan investor dengan nilai perilaku herding behavior yang rendah.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Behavioral Finance adalah sebuah konsep teori yang berbeda dibandingkan dengan Teori Konvensional Keuangan.
Dalam konsep konvensional, seorang investor dikatakan berpikir secara rasional, sedangkan teori Behavioral Finance menyanggah pemikiran tersebut dan mengatakan bahwa investor sebenarnya tidak berpikir secara rasional.
Investor berpikir secara normal. Normal ketika investor memutuskan untuk mengambil sebuah keputusan keuangan berdasarkan faktor ekonomi, psikologis dan sosial.
Perilaku yang umum terjadi dalam Teori Behavioral Finance ialah ketika seseorang mengambil kredit meskipun tidak mampu untuk membayar cicilan ataupun mengambil kredit yang sama dengan lingkungan orang-orang disekitarnya.
Dengan memahami Behavioral Finance diharapkan investor mendapatkan pertimbangan dan wawasan baru dalam pengambilan keputusan finansial yang lebih bijaksana.
Keputusan finansial yang tepat umumnya didukung oleh kondisi ekonomi dan mental yang sehat. Ketika kondisi ekonomi dan mental seseorang meningkat atau memburuk, keputusan finansial yang dibuat cenderung tidak rasional.
Baca juga: BMKG Kalbar Sebut Karhutla Masih Berpotensi Terjadi dan Perlu Diwaspadai
Bias atau penyimpangan perilaku investasi investor dipengaruhi oleh beberapa hal.
Tulisan ini akan membahas beberapa bias yang terbukti di dalam penelitian Behavioral Finance bahwa bias tersebut menpengaruhi keputusan investasi.
Bias yang pertama adalah kepercayaan diri yang terlampau tinggi.
Kepercayaan diri yang terlampau tinggi cenderung menyebabkan investor melakukan transaksi yang berlebihan dan menyebabkan volatilitas pasar yang lebih tinggi.
Investor dalam kondisi seperti ini mempunyai kepercayaan diri bahwa mereka memiliki kemampuan khusus ataupun informasi yang membantu investor tersebut untuk menguasai pasar.
Hal ini meningkatkan volume transaksi yang meningkatkan biaya transaksi dan berujung pada penurunan net profit.
Kepercayaan diri yang terlampau tinggi juga menyebabkan investor lebih berani untuk mengambil risiko yang lebih tinggi.
Baca juga: Kapan One Way Jalan Serdam Pontianak-Kubu Raya Diberlakukan Permanen? Dishub Kalbar Bilang Begini
Investor akan mengabaikan risiko terkait dan mengalokasikan dana mereka ke dalam saham yang lebih berisiko dengan harapan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi.
Hal ini dapat menyebabkan volatilitas pasar yang lebih tinggi akibat pergerakan harga saham yang lebih besar yang disebabkan oleh frekuensi transaksi yang tinggi dan keputusan investasi yang agresif.
| Harga Emas Pegadaian 1 Mei 2026: Galeri 24 dan UBS Naik, Antam Stabil |
|
|---|
| Bocoran IHSG Terbaru 1 Mei 2026 Lengkap Rekomendasi Bursa Harga Saham Pilihan Analis BEI |
|
|---|
| Rekomendasi Harga Saham Pilihan Analis 1 Mei 2026, IHSG Berpeluang Bangkit |
|
|---|
| Harga Emas Pegadaian 30 April 2026 Kompak Turun, UBS Anjlok Paling Dalam |
|
|---|
| Bocoran IHSG Terbaru 30 April 2026 Lengkap Rekomendasi Bursa Harga Saham Pilihan Analis BEI |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Investor-memutuskan-untuk-mengambil-sebuah-keputusan-keuangan.jpg)