Karhutla Kalbar

Puluhan Tahun Melawan Karhutla, Edi Efendi Kenang Asap Pekat Hingga Terbawa Mimpi

Ketertarikan Edi menjadi relawan bermula saat menyaksikan kebakaran besar di wilayah Barito pada awal 1970-an ketika ia masih duduk

Penulis: Peggy Dania | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
PADAMKAN API - Edi Efendi, relawan di yayasan Pemadam Kebakaran Panca Bhakti yang berlokasi di Jalan Suprapto, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalbar, Sabtu 31 Januari 2026. Selama puluhan tahun ia berjibaku melawan kebakaran hutan dan lahan. 

Ringkasan Berita:
  • Hanya ada beberapa kelompok relawan yang bergerak dan berbeda dengan sekarang yang sudah mulai banyak bermunculan.
  • Ketertarikan Edi menjadi relawan bermula saat menyaksikan kebakaran besar di wilayah Barito pada awal 1970-an ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Lebih dari 40 tahun, Edi Efendi (63) mengabdikan diri sebagai relawan di Yayasan Pemadam Kebakaran Panca Bhakti yang berlokasi di Jalan Suprapto, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalbar, Sabtu 31 Januari 2026.

Ia menuturkan mulai terjun sebagai relawan sejak 1982 sementara fokus menangani kebakaran hutan dan lahan semakin intens sejak 1990-an.

“Jadi relawan dari tahun 1982. Untuk karhutla itu tidak bisa hitung sejak tahun 1990-an. Dulu relawan belum banyak, hanya segelintir aja waktu itu masih bekerja sama dengan damkar departemen kehutanan,” ujarnya kepada tribunpontianak.co.id.

Keputusan menjadi relawan adalah panggilan jiwa sosial untuk membantu masyarakat.

“Ini karena ini adalah suatu panggilan jiwa. Kemudian bisa membantu masyarakat untuk mengurangi peristiwa kebakaran dan mengurangi harta benda dan jiwa,” katanya.

Menurutnya, dulu jumlah relawan pemadam kebakaran masih sangat sedikit.

Hanya ada beberapa kelompok relawan yang bergerak dan berbeda dengan sekarang yang sudah mulai banyak bermunculan.

Kabut Asap Ganggu Penerbangan, Pesawat Wings Air Gagal Mendarat di Supadio

Ketertarikan Edi menjadi relawan bermula saat menyaksikan kebakaran besar di wilayah Barito pada awal 1970-an ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Waktu kebakaran di Barito tahun 1972 itu saya masih kelas 3 sekolah dasar. Melihat masyarakat benar-benar kena musibah, dari sana saya tertarik ingin menolong orang dan mengurangi kerugian materi maupun jiwa. Kemudian pramuka saya sering ikut lihat-lihat. Setelah itu saya mencari tempat relawan yang menerima saya, kebetulan waktu itu di Panca Bhakti saya menjadi relawan disana,” tuturnya.

Sejak saat itu, ia kerap ikut bergabung membantu pemadaman setiap kali terjadi kebakaran.

Di balik aktivitas berisiko tinggi tersebut, Edi mengaku mendapat dukungan penuh dari keluarga.

Orang tua hingga istrinya selalu mendukung setiap kali ia menerima panggilan kebakaran.

“Kalau ada panggilan kebakaran, mereka siapkan pakaian dan sepatu saya. Sampai sekarang istri, cucu, anak saya selalu mendukung. Jadi dukungan dari keluarga membuat kita tidak ragu lagi menjadi pemadam kebakaran,” ungkapnya.

Bahkan salah satu keponakannya kini ikut terlibat sebagai relawan pemadam kebakaran Panca Bhakti.

Edi mengenang masa-masa berat memadamkan kebakaran di kawasan gambut yang dulunya masih berupa hutan lebat.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved